Kamis, 27 November 2014

Gunung Lawu (3265 Mdpl) Via Cemoro Sewu Jilid II

Setelah 3 bulan berlalu dari pendakian terakhir kami, akhirnya petualangan kami mulai lagi dan pilihan kali ini jatuh pada Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3265 mdpl dan merupakan gunung tertinggi kelima di Pulau Jawa. Dalam pendakian kali ini saya ditemani dua orang teman dari Malang yaitu Farieska dan Yuldan “Cowik”. Bagi saya pribadi ini adalah pendakian kedua saya ke Gunung Lawu setelah tahun 2010 silam dan jalur yang kami ambil adalah jalur Cemoro Sewu, Sarangan masuk Kecamatan Plaosan - Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berikut ini catatan perjalanan kami dalam pendakian ke Gunung Lawu (3265 Mdpl) kali ini :

Rute Jalur Transportasi :

Malang – Surabaya (Rp.15.000,00) : 1 Jam 30 Menit
Dari Malang kami sepakat berkumpul di Terminal Arjosari jam 21.00 malam dan perjalanan dilanjutkan dengan naik bus ekonomi menuju Surabaya turun di Terminal Bungurasih.

Surabaya – Solo : (Rp.46.000,00) : 7 Jam
Sampai Terminal Bungurasih, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus jurusan Solo dan turun di Terminal Tirtonardi. Sesampai Solo karena perjalanan yang jauh, akhirnya subuh kita sampai terminal dan langsung mencari masjid untuk beristirahat sebentar dan menunaikan sholat subuh.

Solo – Tawangwangu (Rp.15.000,00) : 1 Jam
Ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Tawangmangu dengan naik Bus Langsung Jaya menuju Terminal Tawangmangu. Perjalanan kali ini sungguh indah karena melewati Kampus Universitas Negeri Solo (UNS) dan pemandangan hijaunya pepohonan membuat suasana mejadi segar dan bebas polusi.

(Terminal Tawangmangu)

Tawangmangu – Cemoro Sewu (Rp. 15.000) : 30 Menit
Sampai Terminal Tawangmangu yang berada pada ketinggian 1000 mdpl kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos Cemoro Sewu dengan naik angkutan yang biasa beroperasi terakhir sampai jam 17.00 sore. Ciri khas pegunungan dan lembah-lembah yang mempesona menjadikan perjalanan menuju Cemoro Sewu tidak membosankan. Tidak berapa lama akhirnya kami sampai di Pos Cemoro Sewu yang merupakan jalan raya tertinggi di Pulau Jawa yang berada pada ketinggian 1900 Mdpl. Cuaca sangat dingin dan sesekali kabut datang, disini banyak sekali warung-warung makanan dan banyak pengunjung yang datang untuk berwisata. Selain Gunung Lawu, ada dua tempat wisata yang terkenal di sini yaitu Air Terjun Grojogan Sewu dan Telaga Sarangan.

Rute Jalur Pendakian :

Pos Cemoro Sewu – Pos I Wesen-Wesen (2214 Mdpl) : 1,5 Jam
Sebelum memulai pendakian diwajibkan membayar registrasi Rp. 5000,00/orang. Perjalanan di mulai dengan jalan berbatu yang masih tertata rapi dengan kanan kiri pemandangan pohon cemara yang sangat hijau dan bagus dan sampai pada Pos Sayur karena ada sebuah peristirahatan di  tengah-tengah ladang sayur dimana pemandangan sangat indah sekali. Bukit-bukit cemara hujau sangat indah tertata rapi membuat perjalanan tidak menjenuhkan. Setelah dari Pos Sayur ini perjalanan dilanjutkan dan kita akan menemukan pos lagi dimana disini terdapat mata air yang orang sering menyebutnya Sendang Panguripan. Trek jalur menuju Pos I tidak begitu menanjak dan setelah 1,5 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Pos I Wesen-Wesen. Disini terdapat tempat peristirahatan dan juga terdapat warung yang menyediakan berbagai macam makanan.

 (Pos Cemoro Sewu)

 (Start Pendakian)

(Menuju Pos I)

Pos I Wesen-Wesen – Pos II Watu Gedek (2578 Mdpl) : 2 Jam
Tantangan dimulai dari sini karena perjalanan menuju Pos II sangat menanjak dan jarak tempuh yang paling lama dari setiap pos yang ada. Trek bebatuan yang terus menanjak dan teriknya panas matahari merupakan tantangan tersendiri bagi para pendaki. Kami lebih sering beristirahat sekedar untuk memulihkan tenaga. Di tengah perjalanan kami melewati dimana orang menyebutnya Watu Jago. Akhirnya setelah melewati pendakian 2 jam dari Pos I kami sampai di Pos II Watu Gedek. Pos ini juga terdapat tempat peristirahatan dan kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat disini.

Pos II Watu Gedek – Pos III Watu Gede (2800 Mdpl) : 1, 5 Jam
Perjalanan Pos II menuju Pos III relatif sama dengan pos sebelumnya dimana jalur trek berbatu masih mendominasi dan cuaca mulai dingin karena hari mulai sore dan kabut mulai turun. Sampai di Pos III Watu Gede kami beristirahat cukup lama untuk memulihkan stamina karena perjalanan selanjutnya akan lebih menanjak lagi. Setelah cukup beristirahat tepat pukul 15.00 sore kami melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh perjalanan lagi.

 (Pos III)

(Beristirahat di Pos III)

Pos III Watu Gede – Pos IV Watu Kapur (3082 Mdpl) : 1,5 Jam
Sebuah perjalanan yang menguras tenaga dan bau belerang yang menyengat merupakan perjalanan kami selanjutnya. Dengan kemiringan hampir 45 derajat kami terus melakukan pendakian, dan beruntung cuaca tidak lagi panas dan kabut turun sehingga membuat suasana menjadi segar menambah semangat kami untuk meneruskan pendakian. Akhirnya kami sampai di Pos IV Watu Kapur dan disini pemandangan sangat indah sekali. Segala lelah dan letih selama pendakian akhirnya terbayar dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Dari kejauhan tampak Telaga Sarangan terlihat mempesona yang sesekali hilang dibalik kabut. Kami sempat mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama.

 (Pos IV)

 (Keep The Spirit)
(Beautiful 3082 Mdpl)

Pos IV Watu Kapur – Pos V Jalatunda (3115 Mdpl) : 20 Menit
Perjalanan kemudian kami lanjutkan sampai puncak bukit yang tinggal sedikit lagi. Di puncak bukit ini kami melewati sebuah gua dimana orang sering menyebutnya Sebagai Gua atau Sumur Jalatunda. Sesampai di Pos V Jalatunda kami mengucap syukur karena telah berhasil melewati rintangan yang sangat berat dan perjalanan menuju puncak hanya membutuhkan satu jam perjalanan pendakian. Di Jalatunda ini karena lokasinya berada di puncak bukit, pemandangan benar-benar sangat indah sekali. Padang rumput dan edelweiss merupakan pemandangan yang menjadi ciri khas di Jalatunda ini.

 (Pos V)

(Sunset di Pos V)

Pos V Jalatunda – Sendang Drajad (3157 Mdpl) : 20 Menit
Mengingat hari menjelang maghrib akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sendang Drajad dan bermalam disana sebelum summit attack esok paginya menuju puncak. Perjalanan dari Jalatunda menuju Sendang Drajat merupakan perjalanan yang sangat kami tunggu karena selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sangat indah yang bisa membuat segala rasa lelah dan letih menjadi hilang seketika dan bisa memberikan semangat tersendiri. Tampak indah cahaya kuning kemerahan yang mulai tenggelam di ufuk barat menambah eloknya keindahan sekitar. Setelah sampai di Sendang Drajad yang hanya berjarak 30 menit dari puncak, suasana sangat dingin sekali dimana ketika malam hari bisa sampai 10 derajat celcius. Di Sendang Drajad ini ada sebuah warung yang buka dan kami memutuskan tidur di dalam warung dan tidak membuka tenda. Berteman kopi atau teh hangat dan nasi pecel lauk telur merupakan teman kami setelah 7 jam pendakian yang sangat melelahkan.

 (Antara Pos V dan Sendang Drajad)

 (Indahnya Tebing Batu)

 (Hamparan Padang Luas)

(Warung di Sendang Drajad)

Sendang Drajad – Puncak Hargo Dumilah (3265 Mdpl) : 30 Menit
Dinginya malam membuat kami susah untuk tidur meskipun sudah memakai jaket tebal dan sleeping bag. Akhirnya waktu yang kami tunggu telah tiba, subuh menjelang kami bangun untuk bersiap-siap melakukan pendakian menuju puncak. Banyak sekali ternyata pendaki yang sudah berangkat dan kami berangkat pukul 5 pagi dan perjalanan sampai puncak tepat 30 menit perjalanan dengan melewati jalan setapak yang terus menanjak dan pemandangan disini sangat indah sekali dimana cahaya kuning keemasan mentari pagi mulai tampak di balik awan timur. Di Puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu sebagai titik tertinggi 3265 mdpl kita dapat langsung menyaksikan sebuah penciptaan alam yang sangat indah dari Allah SWT dan kita wajib bersyukur karenanya masih diberi kesempatan menikmati ini semua.

 (Indahnya Esok Pagi)

 (Berkibarlah Nusantara)

 (Sunrise)

 (Cowik ???)
 (Gaya Cowik)

 (Faris di Puncak Lawu)

 (Puncak Hargo Dumilah)

(Akhirnya,...3265 Mdpl)

Setelah kurang lebih satu di puncak kami memutuskan turun kembali ke Sendang Drajad. Sebelum turun kembali ke Cemoro Sewu kami berpamitan kepada Ibu warung karena telah diberi tempat untuk tidur dan tentunya suatu saat kami ingin kembali lagi kesini untuk yang ketiga kalinya. Banyak pengalaman-pengalaman baru yang kami dapat dari pendakian kali ini dan tentunya di setiap perjalanan pasti ada hikmah yang didapat. Perjalanan turun menuju Cemoro Sewu dengan berjalan normal memakan waktu 4 jam perjalanan dan tepat pukul 12.00 siang kami sampai di Pos Cemoro Sewu. Demikian cerita petualangan kami kali ini dalam pendakian Gunung Lawu (3265 Mdpl) Via Cemoro Sewu. Salam persaudaraan dimanapun kita berada…You’ll Never Walk Alone.
(Pasukan Langit, 27 November 2014)

Rabu, 12 November 2014

Waduk Gunung Rowo : Special My Edelweiss

Waduk Gunung Rowo merupakan sebuah waduk yang tidak asing lagi bagi seluruh masyarakat di sekitar Kabupaten Pati. Waduk ini berada di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Waduk ini terletak di lembah di antara beberapa puncak bukit di lereng Gunung Muria sebelah timur. Selain sebagai tempat penampungan air, waduk ini juga sebagai tempat tujuan wisata alam. Suasana yang sejuk dan segar dikarenakan masih banyak pepohonan membuat tempat ini ramai dikunjungi terutama pada akhir pekan.

 (Background Gunung Muria)

(Padang Rumput)
Pulang ke kampung halaman akhir pekan kemarin tentunya sangat spesial karena bisa bertemu keluarga dan tentunya bersama My Edelweiss tercinta. Setelah mendapat izin dari orang tua, kami meneruskan perjalanan menuju Gunung Rowo menggunakan sepeda motor. Lokasi waduk sangat mudah dijangkau dari Kota Pati sebagai ibukota kabupaten dengan mengikuti jalur angkot jurusan Pati - Gunung Rowo dengan perjalanan kurang lebih 45 menit sampailah kita ke ujung jalan yang merupakan pintu masuk Waduk Gunung Rowo. Bagi yang membawa kendaraan pribadi akan mudah karena tidak banyak persimpangan yang harus di lalui dan hanya mengikuti satu jalan utama yang akan mengantar kita sampai ke lokasi. Sedangkan biaya masuk cukup murah yaitu Rp.3000,00/sepeda motor.
(My Edelweiss)
Waduk ini berfungsi juga sebagai tempat bagi penduduk setempat yang mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan di mana mereka biasa menjala ikan yang cukup melimpah di waduk ini. Tidak heran banyak penjual ikan olahan seperti Gurame dan Nila yang membuka warung di sekitar waduk dengan harga terjangkau. Kami sempat menikmati Ikan Gurame Bakar + Nasi Hangat + Mie Goreng + Sambal Pedas + Es Kelapa Muda buat dua porsi hanya Rp. 36.000,00 tentunya sangat murah dan terjangkau bagi semua kalangan.
 (Antara Air dan Indahnya Rumput Hijau)

(It's Beautiful)
Ketika kami kesana kemarin, musim sedang kemarau sehingga air danau banyak yang menyusut dan tidak banyak debit airnya. Banyak nelayan yang memancing ikan di sebagian danau yang masih ada airnya sedangkan sebagian dasar danau yang kering muncul rumput-rumput hijau yang sangat indah. Baru pertama kali saya menyaksikan pemandangan indah ini di sebuah danau di lereng Gunung Muria. Begitu indah ciptaan Allah SWT yang wajib kita syukuri. Demikian petualangan saya kali ini bersama My Edelweiss tercinta, salam damai alam ini.
(Pasukan Langit, 12 November 2014)

Rabu, 27 Agustus 2014

Kokopan (1500 Mdpl) Via Tretes

Setelah tiga bulan berlalu dari pendakian Gunung Penanggungan, kerinduan saya pada kedamaian alam pegunungan membuat saya mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian lagi. Dikarenakan libur kerja hanya sabtu dan minggu, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan pendakian ke Kokopan (1500 Mdpl), sebuah pos pendakian apabila kita mau melakukan pendakian ke Gunung Arjuna-Welirang via Tretes. Dalam pendakian kali ini saya ditemani teman pendakian saya Yuldan "Cowik".

Kami sepakat bertemu di Terminal Arjosari Malang tepat pukul 9 pagi. Setelah menitipkan sepeda motor, perjalanan kami lanjutkan dengan naik bus Jurusan Malang-Surabaya turun di Terminal Pandaan dengan biaya Rp. 7.000,00/orang. Dari Terminal Pandaan, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki angkot Jurusan Tretes dengan biaya Rp. 10.000,00/orang turun di Pos Perijinan Pendakian Gunung Arjuna-Welirang. Sesampai di Pos Perijinan kami melakukan registrasi dengan menyerahkan fotocopy KTP dan dikenakan biaya Rp.8.500,00/orang. 

(Menjelang Sunrise)

(Gunung Penanggungan)

(Matahari terbit)

(Pet Bocor)

Dari Pos Perijinan petualangan kami berlanjut menuju Pet Bocor (800 Mdpl) dengan melalui jalan berbatu yang sudah tertata rapi dan lebar tetapi sangat menguras tenaga dikarenakan jalanan selalu menanjak apalagi cuaca panas di siang hari. Setelah 30 menit berjalan kami sampai di Pet Bocor, disini terdapat sumber air dan warung makan. Karena kami sudah kenal dengan ibu pemilik warung, kami cukup lama disini sambil menikmati minuman hangat dan gorengan yang disajikan. Suasana sangat sejuk karena dikelilingi rerimbunan pepohonan.

 (Si Yuldan "Cowik")

 (Saya dan Cowik)

 (This Is Kokopan)

(Pemandangan Indah)

Tepat pukul dua siang, kami berpamitan dengan ibu pemilik warung untuk meneruskan perjalanan menuju Kokopan. Perjalanan dari Pet Bocor sampai Kokopan memakan waktu 3 jam. Alhamdulillah cuaca tidak begitu panas sore itu dan sesekali kabut datang sehingga suasana menjadi segar. Perjalanan menuju Kokopan sangat menguras tenaga karena sepanjang perjalanan berupa jalan berbatu (makadam). 15 menit sebelum mencapai Kokopan kita akan menemukan sebuah makam di sebelah kiri jalan yang katanya merupakan petilasan Maulana Malik Ibrahim.

(Si Guk-Guk)

(Persiapan Pulang)

(Indahnya Sunrise)

Sesampai di Kokopan, sudah ada banyak pendaki yang sedang melakukan diklat disini. Kami kemudian mencari tempat untuk mendirikan tenda dikarenakan hari sudah menjelang maghrib. Di Kokopan ini kalau hari sabtu dan minggu ada warung yang buka menjual gorengan dan minuman hangat dan terdapat sumber air. Demikian petualangan kami kali ini, dan apabila anda memiliki waktu libur sedikit dan ingin merasakan suasana pegunungan yang sejuk dan keindahan sunrise tentunya, Kokopan bisa menjadi alternatif petualangan anda di akhir pekan.

(Pasukan Langit, 27 Agustus 2014)

Rabu, 28 Mei 2014

Puncak Bayangan, Gunung Penanggungan (1300 Mdpl) Via Trawas

Sudah lama tidak melakukan pendakian dimana yang terakhir hampir satu tahun yang lalu ke Ranu Kumbolo dan setelah itu lebih sering ke daerah pantai di wilayah malang selatan, maka untuk mengusir kerinduan suasana pegunungan kami merencanakan pendakian ke Gunung Arjuna via jalur Tretes. Karena persiapan yang kurang matang, akhirnya kami mengalihkan pendakian ke Gunung Penanggungan (1653 Mdpl) via jalur Trawas (Tamiadjeng), Mojokerto.

Berangkat dari Kota Malang pukul 10.00 pagi, dalam pendakian kali ini kami hanya berdua dan bertemu di Terminal Arjosari, Malang naik bus jurusan Surabaya turun di Terminal Pandaan dengan biaya Rp. 7.000,00. Sesampai di Terminal Pandaan, dilanjutkan naik angkot jurusan Trawas turun langsung di Pos Pendaftaran (Warung Bu Indah) dengan biaya Rp. 15.000,00 sedangkan biaya tiket masuk pendakian Rp. 6.000,00.

Berikut sekilas catatan perjalanan pendakian kami ke Gunung Penanggungan kali ini :

Pos Warung Bu Indah – Pertigaan Arah Puncak (30 Menit)

Start awal pendakian jalanan masih makadam dengan kontur naik turun dan apabila turun hujan tentunya becek dan di beberapa ruas terdapat genangan air. Cuaca sangat panas apabila kita mendaki di siang hari. Sesekali kita melewati pepohonan bambu yang banyak sekali kita jumpai di sepanjang jalan. Setelah berjalan selama 30 menit kita akan sampai di batas akhir jalan makadam, dimana disitu terdapat pertigaan dan di pohon ada tulisan “puncak” ke arah kanan. Kami beristirahat sebentar di sini dikarenakan cuaca yang sangat panas siang itu.

(Warung Bu Indah)

 (Pertigaan Puncak)

 (Tas Carrier Kami)

 (View Sebelum Puncak Bayangan)

 (Dedengkot)

 (Sing Mbaurekso)

Pertigaan Arah Puncak – Pos Bayangan (3 Jam)

Perjalanan dilanjutkan kembali dimana jalanan terus menanjak yang menguras tenaga. Di setiap perjalanan kita akan menemukan tempat-tempat datar yang bisa kita pergunakan untuk istirahat apabila kita kelelahan.Selama 3 jam perjalanan yang menguras tenaga dan energi akhirnya kita sampai pada Pos Bayangan yang berada pada ketinggian 1300 mdpl. Pos Bayangan lokasinya terbuka dengan berupa tanah datar dan padang rumput ilalang. Angin disini sangat kencang dan disarankan mencari tempat mendirikan tenda yang dikelilingi semak ilalang tinggi untuk menahan angin. 

 (Puncak Bayangan)

 (Ngopi Dulu)

 (Ngeteh Dulu)

 (Arek Ga' Jelas)

 (Indahnya Pagi hari)

 (This Is Liverpool FC)

 (You'll Never Walk Alone)

 (Dingin)

Pada malam hari angin semakin kencang dan sempat membuat pasak depan tenda kami terlepas. Kami harus membetulkan agar tenda kami tidak roboh. Semakin malam angin semakin kencang dan kabut semakin tebal membuat pemandangan di sekitar tidak terlihat. Esok hari adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk merasakan segarnya udara pagi. Kami memutuskan tidak ke puncak yang sudah di depan mata dan menjelang siang memutuskan turun untuk menghemat waktu agar sampai ke Malang tidak kemalaman dikarenakan salah satu diantara dari kami masih harus melaksanakan tugas perjalanan kerja ke Bandung dan tentunya membutuhkan istirahat yang cukup. Demikian petualangan kami kali ini, salam damai selalu buat semua dimanapun berada dan selalu jaga persahabatan karena kita adalah satu Nusantara.

 (Ajuna-Welirang)

 (Faris/Fariska?)

 (Puncak)

 (Sunset 1)

 (Camp)

 Sunset 2)

 (Sunset 3)

 (Sunset 4)

 (View)

 (Gunung Gajah Mungkur)

(Eksotis)

(Pasukan Langit, 28 Mei 2014)