Minggu, 11 Januari 2009

Puncak Songolikur 29, Gunung Muria (1602 Mdpl)



Cuti liburan panjang antara natal sampai tahun baru islam kemarin kumanfaatkan untuk pulang kampung halaman. Apalagi setelah mendapat kabar dari temen2 pasukan langit bahwa akan ada acara naek gunung lagi, maka kulangkahkan kaki menuju jalan pulang sambil membayangkan kira2 kemana acara pendakian kali ini. Sesampai di rumah dan bertemu ortu, aq langsung meluncur ke base camp anak2 pasukan langit di tempat tela-tela ari alun-alun kidul Kota Pati.

Sesampai di base camp aku disambut oleh barry, riza n ozy, temen2 pasukan langit yang yang sejak masih sekolah dulu selalu aktif mendedikasikan hidupnya terhadap alam dan lingkungan. Yaaa....inilah kami, meskipun kita adalah orang-orang pinggiran, bukan berarti kami ini bodoh dan terbelakang. Justru dari mereka ini selalu keluar ide2 brilian yang penuh dengan kepedulian. Setelah melepas rindu dan bercengkerama dengan penuh pesahabatan, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan pendakian ke puncak songolikur 29, Gunung Muria (1602 mdpl). Pendakian kali ini hanya aq, barry n ozy yang akan melakukan pendakian.


Keesokan harinya kami berkumpul di base camp untuk melakukan koordinasi akhir sebelum melakukan perjalanan. Perjalanan kali ini kami memutuskan naek sepeda motor melewati Kota Kudus menuju Desa Rahtawu, desa terakhir di bawah lereng Gunung Muria dengan perjalanan jarak tempuh kurang lebih 2 jam. Kami berangkat dari base camp pukul 11.00 siang dan sesampai di Desa Rahtawu pukul 13.00 siang. Setelah mengecek barang2 kami dan menitipkan sepeda motor di salah satu rumah penduduk, maka dimulailah perjalanan kami menuju puncak songolikur 29 yang telah menanti nun jauh di depan mata. Perjalanan kami mulai tepat pukul 13.30 siang. Dan seperti biasa aq adalah orang yang paling terakhir di antara dua temanq yang dahulu berjalan di depan.


Aroma2 alam benar2 menyejukkan menyambut kedatangan kami di awal start pendakian. Medan yang cukup bervariasi membuat kami semakin bersemangat untuk terus bergerak maju di antara terjalnya jalan setapak dan hiruk pikuk nyanyian alam yang sangat mendamaikan jiwa. Kerikil-kerikil kecil menjadi teman setia yang tak pernah lepas dari langkah2 kaki kami. Setelah kurang lebih 3 jam kami berjalan akhirnya tepat pukul 16.30 kami sampai di puncak songolikur 29, Gunung Muria. Rasa haru dan gembira benar-benar kami rasakan setiba di puncak. Rasanya kami ingin menangis mengagumi lukisan alam kebesaran ciptaan Allah yang semakin lama semakin tak berdaya di tengah2 arus dunia yang semakin memprihatinkan. Sambil melepas lelah tak henti2nya kami memandang dengan takjub hamparan hijuaunya puncak negeri kayangan berselimut kabut2 tipis yang sungguh mempesona. Bagiku ini merupakan catatan perjalanan akhir tahun yang sangat spesial. Aq hanya bisa berharap agar kita semua menyadari bahwa Bumi dan segala isinya yang terkandung di dalamnya memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Jangan sampai kita merusaknya yang justru akan merugikan kita semua kelak. Kita bebas mengambil segala sesuatu di alam ini asalkan kita juga ikut melestarikan dan memeliharanya dengan baik dan ikhlas.


PUNCAK SONGOLIKUR 29, GUNUNG MURIA


Pesona Bumi Khayangan Istana Para Dewa
Berdiri Kokoh Puncak Pintu Nirwana
Bersatu diantara Mega-Mega Putih
Hembuskan Angin Sejuk Seiring Kabut Rindu
Tawarkan Irama Dendangkan Kicau Merdu


Titik Malam Dibalik Rona Senja
Berikan Suasana Baru Bersama Jalannya Cerita
Celoteh-Celoteh Camar Hangatkan Wacana
Bisikan-Bisikan Lembut Menyentuh Ruang Kalbu
Segarkan Hati Menuju Fajar Pagi Tak Bertepi

Setapak Demi Setapak Dalam Keheningan
Kerikil-Kerikil Kecil Teman Setia Dalam Pijakan
Ayunan-Ayunan Senyum Lembut di Setiap Renungan
Tatapan Mata Hijau Penuh Keramahtamahan
Sentuhan Manis Akhir Perjalanan yang Tak Kan Terlupakan

(Pasukan Langit, 28 Desember 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar