Senin, 11 Mei 2009

Latar Ombo, Gunung Panderman : Moment Beautiful


Hari Ulang Tahunku kemarin kumanfaatkan sebaik-baiknya dengan mendaki Gunung Panderman. Moment spesial ini gak akan kulewatkan begitu saja. Jauh-jauh hari aku mulai mempersiapkan peralatan yang kubawa. Tenda, tas ransel, kompor, blue gas, senter, syal Panser Biru kebanggaanku, dan yang terpenting adalah perbekalan secukupnya. Sabtu itu telah menunjukkan pukul sebelas siang, setelah mengecek semua perlengkapanku aku segera berangkat menuju terminal landungsari. Karena teman-teman kost gak ada yang suka naek gunung akhirnya aku putuskan untuk naek sendirian. Tentunya hal ini menjadi pengalaman baru buatku. Dari terminal landungsari aku naek bus puspa indah jurusan jombang turun di daerah Srebet kaki Gunung Panderman. Ditengah2 perjalanan di dalam bus aku bertemu dengan ibu2 yang sudah tua mungkin kalau ditaksir usianya kira2 60 tahunan. Kami akrab sekali ngobrol2 dan akhirnya aku baru tahu kalau ibu ini waktu masa mudanya sering mendaki gunung, apalagi mendaki Gunung Panderman sangat sering sekali. Setelah sampai aku berpamitan pada ibu tersebut dan yang sangat menyenangkan buatku dalam pendakianku kali ini ibu itu mendoakanku semoga selamat sampai tujuan. Tentunya doa seorang ibu ini membuatku lega ditengah2 perjalanan pendakianku kali ini.

Setelah turun dari bus aku langsung menuju ke warung "make" (panggilan yang aku sebut kepada ibu yang mempunyai warung di pinggir jalan raya Wana Wisata Gunung Panderman) karena sudah lama tidak bersilaturahmi dengan "make". Segelas teh hangat langsung aku sruput dan tidak ketinggalan segala makanan yang ada di warung itu aku sikat semua. Setelah keinginan perutku tercapai dan membayar semua yang telah masuk pada perutku, aku berpamitan dengan "make" untuk melanjutkan perjalanan pendakian. Tepat setengah satu siang cuaca agak mendung saat itu, aku memutuskan melewati jalan pintas untuk menghemat waktu. Jalan pintas ini aku langsung disuguhi jalan tanjakan yang berbukit-bukit. Aku harus melewati area pemakaman umum sendirian. Meskipun hari masih siang, akan tetapi suasana berbeda tetap terasa apabila kita berjalan sendirian di tempat tersebut. Hanya terdengar hembusan suara-suara angin lembah yang sangat menyejukkan. Saat aku melewati pemakaman tak lupa aku mengucapkan salam dan mendoakan kepada penghuni kubur agar diterima dengan layak di sisi Allah SWT...Amiiin...hal ini juga menjadi pedoman buatku bahwa kita nantinya cepat atau lambat pasti juga akan menghadap kepada Allah SWT menyusul mereka. Tak henti2nya aku mengucapkan syukur masih diberikan keselamatan dan hidup yang baik untuk terus menjalankan ibadah sebanyak2nya di dunia ini sebelum ajal menjemput kita.

Perjalanan melewati bukit pertama ini benar2 menguras tenaga. Tak henti2nya aku harus menghela nafas sejenak sambil menikmati pemandangan Gunung Banyak yang sangat eksotis nun jauh di seberang sana. Rumah-rumah penduduk kelihatan jauh di bawah sana diantara hijaunya pepohonan yang sangat indah dipandang mata. Kurang lebih satu jam aku melewati bukit pertama ini dan lega rasanya aku menemukan kembali pemukiman penduduk dengan canda anak2 kecil yang lugu sedang bermain dengan riangnya. Waktu telah menunjukkan setengah dua siang dan kumelihat mendung mulai tebal dan Puncak "Basundara" Panderman terlihat tertutup kabut yang cukup tebal. Akhirnya aku putuskan untuk mencari musholla untuk beristirahat dan sholat sekalian mengecek kembali peralatan2 yang aku bawa.

Dari musholla terlihat pemandangan sangat indah sekali. Gunung Arjuna sangat anggun kokoh berdiri dengan puncaknya yang selalu tertutup kabut tebal yang penuh menyimpan misteri. Rintik2 hujan mulai turun membuat aku terpaksa harus lebih lama di musholla. Akan tetapi kejenuhanku mulai hilang setelah kumelihat fenomena2 kehidupan di sekitarku. Terlihat seorang anak2 kecil bercanda dengan riang sambil menunggu guru mengajinya datang. Hujan tidak menghalanginya untuk datang ke musholla dengan penuh keceriaan. Tak jauh mataku memandang seorang anak laki2 kecil sambil menunggu waktu mengaji dia juga berjualan di sekitar musholla tersebut. Alangkah mulianya anak ini dengan keterbatasanya dia harus membantu orang tuanya mencari nafkah, dan yang membuat aku kagum selain mencari nafkah untuk keluarganya dia juga tidak lupa dengan kehidupan akhirat bahkan sampai ketiduran anak ini menunggu datangnya waktu mengaji. Bener2 fenomena yang menakjubkan. Hati ini bener2 ingin menangis rasanya terhadap dosa2 yang telah aku lakukan selama ini...Ya Allah...

Selepas ba'da ashar hujan mulai reda dan aku mulai melanjutkan perjalananku dan tidak lupa aku berpamitan dengan adik2 kecil yang melepasku dengan riang. Sungguh terharu rasanya mereka melihatku dengan senyuman manis melepasku melanjutkan perjalanan. Selamat jalan adik2 kecilku, kalau aku kesini lagi semoga aku bisa bertemu kalian kembali. Kalian semua kujadikan semangat hidupku dalam mengarungi kehidupan fana di dunia ini. Berkat kalian semua aku menemukan hikmah dalam pendakianku kali ini (hati ini rasanya bergetar bila teringat senyum2 lugu dan keceriaan mereka). Akhirnya aku sampai di post loket pendaftaran dan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp. 2000,00. Perjalanan kulanjutkan menuju sumber air untuk mengambil air secukupnya untuk perbekalan pendakianku karena disinilah sumber air terakhir.

Setelah mengecek kembali perlengkapanku, petualanganku kulanjutkan melewati jalan setapak sebelah kiri sumber air. Jalan yang menanjak dan beban yang semakin bertambah membuat tenagaku terkuras melewati kaki Gunung Bokong (banyak teman2 yang menyebutnya Gunung Aneh). Lembah di kaki gunung ini selalu tertutupi kabut sehingga suasana misteri sangat kental terasa di sini, apalagi lembah ini pernah memakan korban pendaki karena jurangnya yang lumayan cukup dalam. Dua kali pendakianku terakhir melewati lembah ini aku menemukan hal2 yang ganjil dan aneh. Aroma2 bunga melati pernah mengikutiku dari belakang dalam perjalananku terakhir melewati lembah ini. Padahal di sekitar tempat itu hanya padang ilalang yang terlihat dan tidak kujumpai bunga melati. Ditengah2 perjalanan melewati lembah ini hujan rintik2 mulai datang sehingga menambah berat beban perjalananku kali ini. Berkali2 aku harus terpeleset melewati tanjakan yang sangat licin. Dengan berjalan sendiri dan beban yang kubawa cukup berat aku harus berfikir keras bagaimana melewati tanjakan yang terjal dan licin ini. Akhirnya setelah melewati perjuangan selama satu jam aku akhirnya sampai di Latar Ombo. Perasaan menjadi lega setalah aku mendapatkan kehidupan manusia kembali bertemu dengan pendaki2 lain yang sudah sampai duluan sebelum aku.

Hujan semakin bertambah deras dan cepat2 aku mendirikan tenda untuk berlindung. Meskipun hujan, pemandangan di Latar Ombo ini sangat bagus sekali. Segala keletihan menjadi hilang setelah melihat panorama alam yang sangat menakjubkan. Hari menjelang maghrib hujan masih rintik2 maka kuputuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan ngecamp di Latar Ombo. Sangat riskan bila kupaksakan untuk melanjutkan perjalanan seorang diri ketika hari mulai gelap serta membawa beban yang cukup berat belum lagi hujan masih turun dan masih harus melewati Watu Gede serta Tanjakan Setan yang sangat rawan dan penuh misteri. Akhirnya setelah melepas penat sejenak dan bercengkerama dengan temen2 pendaki lain, selepas ba'da isya perut mulai lapar...hhhmmm makan di tengah2 hujan rintik2 dengan panorama alam yang eksotis menambah selera makanku semakin tak terbendung lagi. Meskipun hanya makan dengan nasi mie goreng ditambah lauknya stik tahu serta susu hangat plus buah pisang sebagai penutup, bagiku itu sudah lebih dari cukup sebagai perbekalan dalam pendakianku kali ini.

Rintik2 hujan mulai reda dan hari semakin bertambah larut...dan detik2 pergantian usiaku itu semakin bertambah dekat. Akhirnya tepat tengah malam kumerasakan benar2 keagungan Tuhan telah terjadi. Sabda alam benar2 telah berubah tengah malam itu. Hujan rintik2 yang sepanjang hari tadi mengguyur alam ini telah menghilang dan berganti dengan pancaran sinar bulan purnama yang sangat2 indah sekali. Kerlip2 lampu Kota Batu nan jauh di bawah sana sangat cantik menawan berpayung kabut putih yang sangat mempesona. Terima kasih Ya Allah engkau masih memberikan aku hidup sampai saat ini sehingga aku masih bisa menikmati alam yang telah Engkau anugerahkan kepada umat manusia di bumi ini. Seluruh alam ini kan selalu bertasbih memuja-Mu sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan selama ini. Malam semakin larut aku mulai beranjak masuk ke dalam tenda, kurebahkan diriku dan aku pun tertidur pulas dengan berselimut senyuman manis alam Latar Ombo yang telah memberikan diriku petualangan dan hikmah baru pada hari spesial itu.

Pagi hari menjelang aku mulai bangun sambil menunggu detik2 munculnya matahari terbit, aku memulai aktifitasku dengan membuat susu hangat yang pastinya sangat nikmat. Akhirnya cahaya2 kuning keemasan itu akhirnya muncul juga di balik Gunung Bokong (Gunung Aneh) yang sangat eksotis. Terlihat temen2 pendaki lain mulai keluar dari tenda mereka masing2 yang tentunya tidak ingin melewatkan moment yang ditunggu2 ini. Hari semakin siang dan aku mulai berkemas2 untuk turun karena cuaca semakin panas di Latar Ombo. Setelah mengecek peralatanku dan semuanya beres aku mulai turun kembali menuju jalan pulang ke kehidupanku semula. tak lupa aku berpamitan dengan temen2 pendaki lain dan semoga persahabatan akan selalu terengkuh di manapun kita berada. Aku kembali melewati lembah Latar Ombo seperti perjalanan pendakianku kemarin tentunya dengan perasaan senang dengan membawa sejuta keceriaan untuk menghadapi liku2 kehidupan di masa mendatang yang semakin tak bertepi...berusaha menggapai esok fajar pagi yang tentunya dengan penuh pengharapan kebahagiaan...Perjalanan akhir pekan yang tak akan pernah terlupakan...Moment Special yang akan terus aku ingat dalam kenangan...Akhir perjalanan ini aku hanya bisa berucap mari kita jaga alam ini...mari kita lestarikan alam ini...dan mari kita cintai alam ini agar esok hari kita dan masa depan kita akan selalu melihat alam yang penuh pesona ini sambil menyenandungkan alam kedamaian...Peace Forever And One (Neverland)...

(Pasukan Langit, 11 Mei 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar