Senin, 15 Juni 2009

Gunung Panderman (2045 Mdpl) Via Kota Batu - 2009

Akhir pekan kemarin kumanfaatkan untuk mendaki Gunung Panderman (2045 mdpl). Setelah bulan kemarin hanya mendaki sampai Latar Ombo karena terhalang hujan waktu pendakian, maka tujuanku pendakianku kali ini adalah menuju Puncak 'Basundara" Panderman. Persiapanku kali ini benar2 kurencanakan dengan matang. Segala peralatan telah aku persiapkan sebelumnya. Pendakianku kali ini aku tidak sendirian lagi karena ada temenku Roni yang mau ikut. Tepat abis Dhuhur kami berangkat dari Terminal Landungsari menuju Desa Srebet tepat dibawah Wana Wisata Gunung Panderman. Tidak lupa kami mampir dahulu di warung "make" untuk bersilaturahmi sambil minum jahe hangat. Tepat pukul 13.15 awal kami memulai pendakian. Sebelum berangkat tidak lupa kami berpamitan dahulu kepada "make".

Seperti biasa awal pendakian kami mulai dengan melewati pemakaman umum desa setempat. Teriknya panas siang itu membuat peluh kami bercucuran. Akan tetapi, bagi kami ini benar-benar petualangan yang sebenarnya. Jalan yang terus menanjak berkelok-kelok melewati ladang penduduk dan hutan cemara kurang lebih satu jam membawa kesan tersendiri bagi kami. Tampak terlihat dari kejauhan Puncak "Basundara" Panderman dengan kemisterianya selalu tertutup kabut membuat kami terus bersemangat untuk menaklukanya. Setelah melewati Bukit "Penderitaan" akhirnya kami sampai pada perkampungan terakhir di bawah kaki Gunung Panderman. Kami mencari musholla untuk menunaikan solat dan tak lupa kami berdoa semoga diberi keselamatan dalam pendakian kali ini. Setelah Ba'da Ashar kami melanjutkan perjalanan. Tidak lupa kami membayar tiket masuk Rp. 2000,00 di Pos I (Pos Pendaftaran). Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju sumber air (Pet Bocor) 1330 mdpl untuk mengambil persediaan air karena disini adalah sumber air terakhir sebelum melakukan pendakian. Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan melewati kaki Gunung Bokong (Gunung Aneh) dengan jalanan yang terus menanjak melewati jalan setapak, apalagi rumput gajah disekeliling jalan yang kami lewati saat ini setinggi orang dewasa membuat badan kami sedikit gatal-gatal. Meskipun demikian tidak membuat patah semangat kami demi mencapai Puncak "Basundara" Panderman. Akhirnya setelah berjalan selama satu jam kami sampai di Pos II (Latar Ombo) 1600 mdpl. Disini kami bertemu dengan tiga orang pendaki yang sudah sampai duluan di Latar Ombo. Setelah melepas lelah sebentar dan mengobrol2 akhirnya kami memutuskan untuk bersama2 naik ke puncak. Senang rasanya bisa mendapat teman baru dalam pendakian kali ini. Sambil bercanda kami terus mendaki melewati jalan setapak dibawah rimbunya pepohonan pinus.

Setelah berjalan 30 menit akhirnya kami sampai di Pos III (Watu Gede) 1730 mdpl. Sampai Watu Gede kabut mulai turun sehingga pemandangan tidak terlihat. Di Watu Gede suasana bener2 damai sekali. Batu2 besar tampak terlihat dimana2. Tapi sayang banyak coret-coretan tangan sangat mengotori keindahan batu2 tersebut. Setelah melepas penat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak "Basundara" Panderman yang tampak terlihat samar2 di balik kabut tebal. Jalan yang kami lalui adalah jalan setapak yang cukup datar melewati padang luas. Kami harus menerobos rumput2 liar setinggi orang dewasa diantara kabut yang semakin tebal. Akhirnya setelah berhasil melewati padang luas tersebut kami berhenti sebentar di bawah Tanjakan Setan untuk melakukan koordinasi sebentar. Kondisi kabut yang semakin tebal membuat matahari tak mampu memperlihatkan sinarnya di kala senja sore itu. Mengingat hari semakin gelap kami terus melakukan perjalanan melewati Tanjakan Setan yang sungguh mempesona. Dengan kemiringan ketinggian hampir 45 derajat membuat kami harus berhati2 melewati Tanjakan Setan ini mengingat telah banyak korban ketika melewati Tanjakan Setan ini.

Tepat menjelang maghrib kami berhasil melalui Tanjakan Setan. Perasaan sedikit lega meskipun kabut belum menghilang di sekeliling kami. Sambil beristirahat sebentar terlihat dari kejauhan dibawah sana tampak Puncak Gunung Bokong (Gunung Aneh) terlihat eksotis dikelilingi kabut putih yang sungguh menakjubkan. Sementara di sebelah kiri kami nun jauh di seberang sana dari kejauhan tampak samar2 Puncak Gunung Kawi benar2 membuat kami bergetar menjelang senja sore itu. Perjalanan kami lanjutkan mengingat hari mulai gelap. Sebelum puncak kami harus melewati jalan setapak mendatar menerobos semak2 yang cukup rimbun sekali dengan sebelah kiri kami tampak Jurang Banteng terlihat cukup dalam. Wooow benar2 harus membutuhkan kehati2an dalam setiap langkah bila tidak ingin terperosok ke dalam Jurang Banteng yang telah siap2 menanti dengan senyuman selamat datangnya. Beberapa meter sebelum puncak sayup2 terdengar dari kejauhan suara2 wanita yang saling bersahut-sahutan seperti suasana di sebuah pasar. Suara2 tersebut persis diatas jalan setapak yang penuh semak belukar yang cukup rimbun waktu kita lalui tadi. Dari kejauhan yang kami dengar seperti suara teriakan bahkan ada suara seperti orang menangis. Aku hampir saja terlena oleh suara2 itu. Aku sempat berhenti sebentar sambil menunggu mereka karena aku pikir itu adalah pendaki yang mungkin lagi mencari jalan menuju puncak. Karena suara2 itu terus bersahutan membuat kami tak menghiraukanya dan memutuskan untuk terus melanjutkan menuju puncak.

Setelah kurang lebih satu setengah jam berjalan melewati Tanjakan Setan dan Semak2 yang penuh misteri tadi akhirnya kami sampai di Puncak "Basundara" Panderman (2045 mdpl). Tak henti2nya kami terus berfikir siapakah gerangan suara2 wanita yang saling bersahutan tadi. Apakah ini yang disebut Pasar Setannya Panderman? Suara2 itu hanya terdengar ketika maghrib telah tiba dan baru berhenti ketika menjelang Ba'da Isya' telah tiba. Yaaach...hanya Allah SWT yang lebih mengetahui tentang alam yang telah diciptakan-Nya di dunia ini. Malam itu di Puncak Panderman pemandangan benar2 bagus sekali. Pancaran bulan dikelilingi ribuan bintang di angkasa membuat langit malam itu sungguh2 menakjubkan. Kota Batu dan Malang Raya tampak terlihat dengan warna-warni lampu kehidupanya di balik kabut putih menambah indahnya pemandangan alam di Puncak Panderman malam itu. Apalagi makan nasi dicampur mie goreng, telur dan kornet "so good" ditambah kerupuk udang dengan minumnya susu hangat sambil menikmati acara api unggun menambah kehangatan suasana di malam itu.

Malam semakin larut, heningnya alam membuat suasana benar2 mendamaikan jiwa. Kami larut dalam tidur setelah puas menikmati pemandangan alam yang penuh kesan di Puncak Panderman malam itu. Ketika esok menjelang, lukisan2 alam benar2 indah sekali. Cahaya2 kemerahan tampak perlahan2 menyembul dibalik kabut tebal dengan senyumnya yang menghangatkan jiwa bagi yang melihatnya. Tak henti2nya kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan alam yang mempesona ini kepada umat manusia. Saatnya bagi kita untuk selalu menjaga, mencintai dan melestarikan alam yang dititipkan Allah SWT kepada kita demi kelangsungan hidup umat manusia baik di masa sekarang maupun masa mendatang sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Selama mendaki Panderman, bagiku ini adalah petualangan yang paling berkesan di gunung ini. Sebuah akhir perjalanan petualangan bersama orang2 yang fantastis, menyusuri alam yang penuh senyuman-senyuman yang tidak dapat kami mengerti dengan akal pikiran karena perbedaan2 alam dengan manusia. Akan tetapi kami berusaha memahami dan meresapi terhadap fenomena2 yang telah kami alami sebagai pedoman kehidupan kami dalam mengarungi dunia fana ini. Akhir kata...Mari kita jaga alam ini...Semoga kan selalu mendapat Cahaya Illahi...Damai akan selalu bersemi...Tuk mencapai cerah fajar pagi...Salam Damai Gembuleng...
(Pasukan Langit, 14 Juni 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar