Rabu, 23 Desember 2009

Gunung Merapi (2965 Mdpl) Via Selo







Dinginya Kota Malang pagi itu menawarkan kesejukan yang mempesona. Rutinitas asyiknya bekerja tiba2 terhenti dengan dering suara handphone dibalik saku celanaku. Aku angkat ternyata seorang teman menelepon dan mengajak mendaki ke Gunung Merapi (2965 mdpl). Aku pikir ini bercanda, tetapi ternyata serius dan akhirnya aku pikir2 aku setuju tuk ikut, kebetulan juga akhir pekan libur kerja. Malam harinya aku persiapkan semua segala perlengkapan pendakian dan perbekalan tentunya. Tenda, kompor gas kecil, nesting, senter, double jaket, celana, syal dsb.

Esok harinya, setelah mengecek segala perlengkapan akhirnya habis shalat jum’at aku berangkat dari Malang menuju Surabaya. Dari Terminal Surabaya dilanjutkan naek bus jurusan Solo. Total perjalanan dari Malang-Surabaya-Solo kurang lebih 8 jam. Sesampai di Solo dilanjutkan naek bus jurusan boyolali, sampai sana aku dijemput temenku Blotonk dan bermalam di rumah neneknya Blotonk. Esok paginya kami berdua akan melakukan petualangan kami dengan mendaki Gunung Merapi dan menggapai Puncak Garuda yang terkenal itu.

Semalam di Boyolali bener2 sepi, tenang dan sejuk. Segala keletihan dan kepenatan selama perjalanan panjang menjadi hilang setelah menapaki kota Boyolali dengan ketenanganya malam itu. Akhirnya ku tertidur pulas dengan senyuman kelegaan. Akhirnya esok pagi di Kota Boyolali menyambutku dengan ucapan selamat paginya. Kicauan burung2 diatas dahan bener2 melahirkan suara irama alam yang jarang terdengar dan kita jumpai di saat ini. Tampak terlihat dari kejauhan Gunung Merbabu bener2 mempesona dengan kabut di puncaknya. Tepat jam 8 pagi kita berangkat menuju Base Camp di kaki Gunung Merapi. Tak lupa kami berpamitan kepada nenek Blotonk. Setelah kurang lebih satu jam mengendarai sepeda motor, kami sampai di Base Camp dan melakukan pengecekan ulang peralatan dan perbekalan kami sebelum mendaki.

Setelah melakukan koordinasi akhir, petualangan kami berdua pun dimulai. Tepat pukul 10 pagi kami melakukan perjalanan pendakian. Medan awal kami langsung disuguhi jalan beraspal dan menanjak menuju New Selo atau Pos Perizinan. Setelah beristirahat sebentar perjalanan kami lanjutkan dengan melewati jalan setapak yang terus mendaki. Peluh keringat kami bercucuran siang itu. Tak henti2nya kami beristirahat sebentar sambil menikmati indahnya dinginya kabut dan pemandangan yang eksotis di depan kami tampak menjulang tinggi Gunung Merbabu yang sungguh indah tuk dipandang mata. Setelah berjalan kurang lebih 3 jam yang melelahkan akhirnya kami sampai pada Pos Patok I. Pemandang di Patok I bener2 sangat bagus dengan jurang di kanan kiri kami. Angin pada waktu itu kencang sekali. Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sebentar di Patok I sambil makan nasi goreng telur yang kami bawa dari Base Camp tadi. Makan diantara alam sambil melihat eksotisnya pemandangan alam pegunungan bener2 membawa kenikmatan tersendiri bagi kami.

Setelah melakukan pengecekan perlengkapan, kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali. Cuaca mulai dingin, kabut mulai tebal, dan angin semaikin kencang dengan jurang di kanan kiri kami. Dengan penuh semangat kami terus melanjutkan perjalanan menuju Pos Patok II. Perjalanan dari Patok I menuju Patok II bener sangat berat. Jalanan yang terjal dan terus naek tanpa ada bonus mendatar dengan vegetasi jalanan yang berdebu dan banyak bebatuan membuat kami harus berkonsentrasi dan berhati2 dalan melangkah agar tidak terpeleset. Tak henti2nya kami menyeka peluh keringat yang bercucuran meskipun cuaca dingin berkabut dan angin kencang. Setelah melewati jalanan yang berdebu dan berbatu disertai cuaca dingin berkabut dan angin kencang selama kurang lebih 2 jam, akhirnya perjuangan kami berakhir setelah sampai pada Pos Patok II. Dari Patok II tampak terlihat Puncak Merapi tertutup di balik kabut dengan asapnya yang mengepul menjulang tinggi di angkasa.

Hari udah mulai sore ketika kami tiba di Patok II. Setelah mengecek ulang perlengkapan kami dan menunaikan ibadah, perjalanan kami lanjutkan menuju Pasar Bubrah. Sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat yang paling angker sebagai tempat berkumpulnya para penduduk halus Merapi. Jalanan berbatu yang terjal disertai angin kencang menjadi teman kami dalam pendakian sore itu. Akhirnya perjuangan kami tidak sia2 dan kami tiba di puncak In Memoriam. Di Puncak ini terdapat batu bertuliskan nama para pendaki yang meninggal di Gunung Merapi Ini. Tak lupa kami berdoa agar arwah temen2 kita ini diterima yang layak di sisi Allah AWT…Amiiin…Dari Puncak In Memoriam ini tampak di depan kami hamparan luas Pasar Bubrah dengan batu2 besar di depan mata kami. Sementara itu Puncak Merapi kokoh berdiri di atas kami dengan keangkeranya yang membuat hati kami semakin terpacu tuk menggapai atmosfer puncaknya esok hari.

Hari menjelang maghrib kami mencari tempat di Pasar Bubrah untuk membuat tenda. Malam hari di Pasar Bubrah benar2 dingin banget. Kami berdua tidak bisa tidur nyenyak apalagi kadang terdengar suara2 aneh di diluar tenda kami yang membuat kami terus berfikir siapakah gerangan yang diluar sana. Semalam di Pasar Bubrah memberikan kesan tersendiri bagi kami. Esok pagi menjelang suasana bener2 tenang dan menyejukkan. Kedamaian pagi hari dapat kami rasakan di Pasar Bubrah.

Tepat pukul 7 pagi akhirnya aku putuskan naek ke Puncak Garuda sendirian karena temenku gak ikut dan memilih menjaga tenda di Pasar Bubrah. Kurang lebih 2 jam aku harus melewati terjalnya jalanan bebatuan sendirian dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat. Seiring jejak2 langkah yang mulai letih dan nafas yang mulai terengah2 dengan semangat tuk menggapai Puncak Garuda, Merapi membuat aku terus berjalan tanpa patah semangat. Akhirnya sujud syukur kupersembahkan kepada Allah SWT setelah sampai di puncak. Hati ini seakan2 tidak percaya dan pengen menangis bisa melewati semua rintangan kurang lebih 8 jam perjalanan pendakian dari Base Camp awal sampai puncak. Keagungan Tuhan bener2 menakjubkan dari Puncak Garuda, Merapi. Cuaca cerah dengan awal putih yang menggumpal di bawah sana membuat alam pada waktu itu indah sekali. Tampak dari kejauhan Gunung Merbabu, Sindoro, Sumbing, Slamet, Ungaran, Lawu, Arjuna-Welirang terlihat menawan dari Puncak Garuda, Merapi. Kawah aktif Merapi selalu mengeluarkan asap belerangnya menjulang tinggi di angkasa dengan anggunya.

Diri ini seakan masih gak percaya bisa dekat dengan kawah aktif Merapi yang termasuk jajaran sebagai salah satu kawah aktif berbahaya di dunia. Selama 1 jam di Puncak Garuda, Merapi benar2 kumanfaatkan semaksimal mungkin tuk menikmati harmony symphony indahnya irama suara alam di puncak Garuda, Merapi. Sabda alam yang benar2 menakjubkan membuat hati ini semakin yakin akan kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ku hanya bisa berdoa dan berharap serta terus mengingatkan kepada kita semua mari kita jaga alam ini agar untuk saat ini, esok hari dan selamanya kita dan generasi kita kedepanya masih bisa melihat, merasakan dan memelihara alam indah ini demi keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan alam lingkungan sekitarnya sebagai satu kesatuan yang utuh…Damai Selalu Bumi Ini…Still A Live…Never Surrender…Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak…

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
(Q.S. Ar-Rum :41)

(Pasukan Langit, 23 Desember 2009)

4 komentar:

  1. manthaaf masss.... kapan kesana lagi, jd pengen nyobain.. :)

    BalasHapus
  2. tanggal 26 februari ada yang ngajak mendaki ke Gunung Ceremai,Jawa Barat...Insya Allah kalau jadi ikut persiapan money dulu ney...:))... kalau ke merapi lagi ntar dulu...pengenya ke sindoro atau Lawu ganti...:)

    BalasHapus
  3. Uhuiiiii... pendakian yang lemot.... hahahaha

    BalasHapus
  4. yang penting sukses bosss....:)...sindoro kapan ney...

    BalasHapus