Senin, 25 Januari 2010

Kondang Merak : Eksotisme yang Terlupakan

Akhir pekan kemarin rencana Team Pasukan Langit akan melakukan pendakian ke Gunung Wilis, akan tetapi mendapat kabar dari seorang teman di Kediri bahwa Gunung Wilis masih ditutup untuk pendakian karena cuaca buruk dan sering terjadi longsor dan badai. Akhirnya petualangan kami alihkan menuju ke selatan wilayah Malang yaitu jelajah Pantai Kondang Merak. Kondang Merak masih alami dengan banyak2 rawa yang kita jumpai apabila kita akan melakukan jelajah alam menyusuri bukit yang memanjang di sepanjang pinggiran pantai.

Dari Kota Malang memerlukan waktu 3 jam untuk sampai Kondang Merak. Tepat pukul 2 siang kami sampai di Kondang Merak. Tapi sayang, Kondang Merak menjadi eksotisme yang terlupakan. Dibandingkan dengan Balekambang, untuk menuju Kondang Merak kita harus melewati jalan yang keras banyak bebatuan yang sangat membahayakan bagi kendaraan bermotor apalagi pada waktu musim penghujan. Akan tetapi sebanding dengan perjuangan kami melewati tantangan ini akhirnya kita akan disuguhi eksotisme alam yang alami, tenang dan sunyi. Hanya suara deburan ombak memecah karang dan hembusan angin laut yang sangat ramah menyapa lembut menawarkan ketenangan hati dan keindahan alam ciri khas pesona pesisir pantai.

Tepat menjelang senja hari surga alam benar2 menakjubkan. Cahaya kuning kemerahan di ufuk barat tersenyum manis mengucapkan selamat datang pertanda malam mulai berlayar di antara pesona Kondang Merak. Tampak perahu nelayan menerjang gelombang tuk kembali menuju jalan pulang sambil berharap mendapat rezeki atas segala hasil jerih payah melaut. Sementara anak istri menunggu dengan senyuman di pinggir pantai sambil berharap laut kan selalu memberikan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Kami pun tak mau ketinggalan untuk ikut merasakan kenikmatan itu. Kami membeli lima ikan tongkol ukuran sedang seharga Rp. 11.000,00 untuk kami bakar di malam harinya.

Isya telah berlalu di Kondang Merak malam itu. seiring api unggun yang menghangatkan badan sambil menunggu ikan tongkol bakar kecap manis, kami berusaha memahami arti yang tersembunyi akan arti pentingya hidup ini seiring deburan ombak keputih2an yang tampak menerjang karang diantara gelapnya malam itu. Kerlap kerlip lampu nelayan nun jauh di tengah laut dipermainkan gelombang menunjukkan dengan bermodal semangat dan doa mereka para nelayan kecil mencoba mengais setitik rezeki di tengah samudra yang mungkin mereka tidak tahu mungkinkan laut akan selalu memberikan senyumanya untuk saat ini dan esok hari? Yaaach hanya Allah SWT yang lebih mengetahui.

Malam pun semakin larut dan teman2 udah pada tidur, hanya hembusan angin malam dan deburan ombak yang selalu setia menerjang karang yang masih terdengar serta tidak lupa ketinggalan suara2 binatang malam menambah tenangnya malam itu. Bintang2 di angkasa pun berkelipan dan bulan separo yang juga tidak mau ketinggalan untuk menunjukkan eksistensinya bahwa mereka juga memiliki peran andil dan menjadi bagian dari dunia ini. Sebuah keteraturan jagat raya yang benar2 saling berkesinambungan dalam menjalankan peran dan tugas masing2 tanpa harus berselisih paham dan bertikai. Subhanallah (Maha Suci Allah) atas segala semua penciptaan-Nya ini.

Akhirnya esok pagi pun tiba dengan cahaya kuning keemasan di ufuk timur ciri khas yang tidak asing lagi bagi kita semua di esok hari. Dingin masih terasa dan api unggun semakin tersenyum lebar karena berhasil mendapat kehormatan sekali lagi untuk menghangatkan kami. Tepat pukul 8 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan menyusuri bukit dan rawa serta susur pantai menuju Pantai Balekambang. Kami harus mendaki dan menuruni bukit serta melewati tiga pantai kecil untuk menuju Balekambang. Menyusuri hutan dan rawa yang masih alami memberikan kesan tersendiri bagi kami. Menerobos gelapnya hutan meskipun hari udah pagi tapi karena terhalang pepohonan yang tinggi dan rawa2 membuat cahaya matahari agak terhalang dedaunan. Di tengah perjalanan hutan tampak dari sebelah kiri kami terlihat lumpur hidup yang cukup berbahaya hanya berjarak beberapa meter di depan kami.

Kondang Merak memberikan pengalaman baru bagi kami dalam menyikapi fenomena alam yang telah terjadi. Lewat tulisan ini kami berharap semua ekosistem yang ada tetap menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga simbiosis mutualisme akan terus terjaga. Semoga selamanya akan terus terjaga dari tangan2 noda yang akan merusak simbiosis mutualisme ini sampai kapan pun. Peran pemerintah daerah setempat benar2 diperlukan dalam hal penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur demi kemajuan Kondang Merak kedepanya tanpa harus merusak alam yang indah dan eksotis ini. Bagi kami sampai saat ini Kondang Merak merupakan sebuah "eksotisme yang terlupakan".

(Pasukan Langit, 25 Januari 2010)

2 komentar:

  1. wooow , seruu ..
    aku juga pengen jlajah jlajah ..
    tpi, ga ada tmene ..
    fiiuhh ,,

    BalasHapus
  2. gpp ayo jelajah2 ma kita2...nyantai aja...:)

    BalasHapus