Jumat, 15 Oktober 2010

Gunung Penanggungan (1653 Mdpl) Via Tamiadjeng



Gunung Penanggungan dikenal juga dengan sebutan gunung pemalu. Mengapa disebut demikian? Yaitu karena puncaknya yang selalu tertutupi oleh awan atau kabut yang tebal, dengan puncaknya tertinggi yaitu sekitar 1653 mdpl. Mendaki Gunung Penanggungan memiliki pengalaman tersendiri bagi seorang pendaki. Gunung ini juga tak jauh dari saudaranya yaitu Gunung Arjuna (3339 mdpl) dan Gunung Welirang (3156 mdpl).

Gunung Penanggungan terletak di Desa Tamiadjeng, Kecamatan Trawas, Kota Pandaan. Dari letaknya kita sudah tahu bahwa gunung ini tidak terlalu tinggi. Tapi jangan
dianggap enteng karena perlu diketahui jalan menuju ke sana sangat ekstrim. Bila cuaca hujan kondisi medan berkabut tebal dan angin kencang, sebaliknya bila cuaca panas maka terik mentari sangat menyengat. Bagi para pendaki diharap bisa mengatur manajemen perbekalan khususnya perbekalan air karena selama perjalanan pendakian menuju puncak tidak ditemukan sumber air. Total perjalanan normal sampai puncak bisa ditempuh ± 5 jam perjalanan pendakian.

Hari Sabtu tanggal 2 Oktober adalah awal pendakian. Kami
bertiga: Junedz “Uneeet, Yuldan “Cowik” dan Edo “Tub-tub yang melakukan pendakian kali ini. Kami mengawali perjalanan ini dengan menaiki angkutan jurusan Trawas dari Terminal Pandaan sekitar 45 menit. Lalu kami turun di perempatan Tamiadjeng pukul 10.00 WIB. Di sana terdapat sebuah warung milik Mak Ti’. Kami sengaja mampir untuk istirahat sebentar dan makan untuk mengisi perut yang masih kosong serta ibadah siang. Setelah itu kami bertiga melanjutkan perjalanan berjalan ke arah utara menuju lokasi dengan naik ojek karena jarak tempuh dengan start lumayan jauh. Kira-kira jarak tempuh dengan berjalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam.

Sebelum masuk hutan kami diharuskan mendaftar identitas kami masing-masing. Hal ini wajib dilakukan agar jika sewaktu-waktu terdapat suatu kecelakaan pendaki dapat ditemukan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB dan perjalanan telah kami mulai. Dari awal perjalanan ini banyak sekali bebatuan yang tersusun rapi. Untuk petunjuk jalan kita cukup berpedoman satu arah saja. Di perjalanan kami melihat banyak tanaman singkong, jagung dan pohon durian yang menggoda selera kami.


Dengan berjalannya waktu kami berjalan kaki seakan tak kenal lelah. Jalan mulai bertambah sempit dan juga kabut mulai menebal. Pukul 14.15 WIB kami mulai merasakan kabut serta angin yang sangat kencang dengan jarak pandang mata sekitar
8 sampai 10 meter saja. Jalan yang lumayan ekstrim ini merupakan jalan menanjak juga tanahnya yang licin kombinasi antara tanah dan bebatuan serta banyak ditumbuhi rumput-rumput yang tinggi. Itu pun kami belum sampai pertengahan perjalanan masih seperempat dari kaki gunung. Pada pukul 15.30 WIB kami sampai pada Pos Bayangan. Di tempat itu angin dan kabut seakan ingin terus menerjang kami. Tapi kami tak pantang menyerah dan yakin akan perjuangan kami. Tak henti-hentinya kami selalu berdoa kepada Allah SWT agar selalu diberi keselamatan dalam pendakian kali ini.

Kami jalan dengan pelan-pelan dan tidak berani berjauhan. Karena cuaca yang tidak bersahabat kami memutuskan untuk mencari gua untuk tempat berteduh. Pukul 04.30 WIB kami belum menemukan gua sama sekali sebab jarak pandang mata kami sedikit tertutupi oleh kabut. Kami berjalan sambil berdo’a, “Ya Allah lindungilah hamba-hambaMu ini.” Sampai pada akhirnya pukul 17.15 WIB kami menemukan gua yang kami jadikan sebagai tempat beristirahat.
Semalam menjadi manusia gua sangat memberi kesan tersendiri bagi kami.

Malam tak terasa dan haripun telah menjelang pagi kembali. Kami bangun pukul 04.00 WIB lalu kami
memasak dari perbekalan yang kami bawa sebelum melanjutkan menuju puncak. Jam sudah menunjukkan pukul 07.22 WIB, kami tak sabar untuk melanjutkan ke puncak. Ternyata menuju puncak dapat kami tempuh dengan jarak waktu 20 menit saja dan tidak perlu membutuhkan banyak tenaga dengan berjalan santai. Sampai puncak tepat pukul 07.45 WIB, kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa yang tak kalah serunya dengan gunung-gunung lain. Sungguh perhiasan alam yang tak ternilai harganya! Maka dari itu kita sebagai anak bangsa patut dan wajib untuk melestarikan dan menjaga keutuhan alam tersebut. Kalau bukan kita yang melestarikan dan menjaga, siapa lagi?

Bagi kami
bertiga, pendakian ke Gunung Penanggungan (1653 mdpl) merupakan pengalaman yang tak terlupakan walaupun cuaca pada waktu itu tak begitu bersahabat. Setelah puas kami menikmati puncak kami memutuskan untuk turun pada pukul 09.03 WIB. Kabut dan angin yang sangat kencang membuat kami tidak sempat untuk menjelajahi keseluruhan puncak yang sangat luas itu. Tiba di bawah sampai pada pukul 12.15 WIB kami singgah di Warung milik Bu Indah dan menyantap wedang tape hangat yag sangat nikmat. Banyak cerita-cerita, petuah-petuah, nasehat-nasehat dari Bu Indah yang sangat bermanfaat yang dapat kami jadikan bekal kami dalam mengarungi kehidupan ini kedepanya. Terima kasih Ibu yang baik, Insya Allah suatu saat kalau musim durian dan rambutan udah tiba kami akan datang lagi kesana lagi untuk bersilaturahmi…he…he…he... 
(Pasukan Langit, 15 Oktober 2010)

4 komentar:

  1. ayo bang deni....untuk ke dua kalinya nanti Insya Allah kita bisa mendaki bersama lagi:)

    BalasHapus
  2. wah aq jd inget jaman SMA dl......inget temen2 yang paling setia dlm hdup q.....temn2 yangbersedia berbagi se bungkus mie instan d dinginnya gunung pnnggungan.... indah sekali....

    BalasHapus
  3. pengalaman yang tak terlupakan ya bro...:)

    BalasHapus