Rabu, 24 November 2010

Gunung Lamongan (1618 Mdpl) Via Lumajang







Gunung Lemongan (1618 Mdpl) atau istilah orang lain menyebutnya dengan gunung Lamongan, entah mana yang benar tapi itu hanya sebuah kiasan nama, jangan salah gunung ini terletak di Kota Lumajang, Kecamatan Plupuh Bukan nama sebuah kota di Tuban, gunung ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendaki, apalagi ketinggian gunung ini sekitar 1618 mdpl yang dapat kita prediksi gunung ini tak tergolong tinggi, Banyak sekali aneka macam tumbuhan yang dapat kita jumpai disini sebagi contoh pohon pakis, anggrek, dan lain sebagainya.

Gunung Lemongan adalah tujuan kami berdua yang ingin kami singgahi sebagai jalur pendakian yang kesekian kalinya, hanya saja kali ini perjalanan kami dua orang (Junedz “Uneeet” & Mc Yuldan “Cowik”), hari Jum’at pukul 14:05 wib adalah titik awal kami bertemu dimana terminal Arjosari menjadi lokasi pertama perjumpaan, dari sini kita mengawali perjalanan naik bus jurusan probolinggo perjalanan sungguh melelahkan sekali apalagi kami belum oper bus, sampai pada akhirnya tiba juga diterminal Probolinggo, lalu perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik bus antar kota tapi kali ini kita turun di Pasar Klakah.

Setiba kami di Pasar Klakah pukul 17:45 wib, lalu kami lanjutkan dengan naik angkutan ojek, yang jaraknya kurang lebih 10 km dari jalan raya, sebetulnya naik Ojek itu sendiri jalan terbaik buat kami untuk menuju Pesanggrahan Mbah Citro, maka dari itu kita harus merogoh koceh agak dalam yaitu Rp. 25.000,00 per orang, apalagi perjalanan ini melewati hutan belantara, di tengah perjalanan naik tiba tiba salah satu motor dari tukang ojek ada rantainya yang putus, sampai pada akhirnya tukang ojek memutuskan perjalanan di lanjutkan dengan 1 motor 3 orang, jalan yang sulit banyak batu. Pukul 18:00 wib, kita sampai di pesanggrahan Mbah Citro, tak lupa kami pun mengucapkan salam “Assalamu’ailkum” kita pun mampir sejenak hanya untuk minta ijin naik ke Gunung Lemongan, kurang lebih dapat setengah jam kita ngobrol ngobrol setelah itu perjalanan kami mulai dari Pendopo Mbah Citro pukul 18:15 wib, tak banyak yang kami lakukan diperjalanan hanya berdo’a dan ada jalan yang bercabang membuat pandangan kami tertuju pada satu arah jalan saja, lebih tepatnya pukul 19:30 Wib kami mampir di Pos Laskar Hijau sebuah gubuk yang besar disitu kita melaksanakan shalat berjama’ah bareng. Perjalanan ini kami lanjutkan kembali dengan jalan agak santai di tengah perjalanan yang kami lalui ini banyak sekali rumput yang tumbuh sekitar 1 meter dan juga ada jalan yang sangat unik biasanya orang menyebutnya “Watu Keset” sebuah tempat dimana penuh dengan bebatuan berwarna hitam bila kita jalan disini maka harus hati hati melewatinya kalau tiiidaaaakkk kaki kita bisa terperosok di sela sela bebatuan, karena ini sudah malam jadi penunjuk arah kita masih nyari Alhamdulillah tidak sulit bagi kami menemukannya hanya melihat posisi gunung maka kami ikuti jalan yang ada.

Perjalanan malam ini kami hentikan untuk sementara waktu, yaitu tepat arah pukul 21:00 wib di sebuah batu besar yang namanya “Watu Gede”, dilokasi ini ada sebuah tempat yang sangat datar bisa dipergunakan untuk mendirikan sebuah tenda tak jarang bagi pendaki lain untuk ngecamp disini, mungkin kalau dipakai buat lapangan voli cukup kali yaaa, hehehe,,,Bercanda, Malam ini kami memasak didalam tenda kami pun membuka perbekalan sederhana yaitu Bubur Jagung dan Pop Mie Instant sebagai pengganjal perut yang sudah protes nih dari tadi “Laperrrr”, malam semakin larut bulan terus menyinari bumi angin pun tak terlalu kencang akhirnya membuat tidur kami semakin nyenyak saja, pada malam itu gak ada sama sekali yang mendaki kecuali kami berdua tak apalah walaupun cuman berdua, emang aku dan temenku ni kayaknya udah nyetel kali.

Pagi pun akhirnya menunjukan mataharinya yang mau terbit hari pun sudah berganti menjadi sabtu seakan tak mau kalah dengan kami, maka kami pun harus bangun cepat cepat agar supaya bisa menghemat waktu, lalu kami masak Mie Telor dan Bubur Jagung sebagai santapan pagi ini, setelah itu kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan, Teman Teman yang membaca cerita ini, perlu kalian ketahui tas ransel dan tenda itu sudah menjadi sahabat kami berdua untuk mendaki gunung. Apalagi di gunung kita disuguhi dengan pemandangan yang Luuuaar Biasa tak kalah serunya. Perjalanan yang melelahkan di siang bolong ini sangat menyenangkan sekali apalagi didukung dengan cuaca yang begitu cerah dan matahari yang selalu disiplin memberikan sinar pada para penduduk dimuka bumi, tapi matahari dipuncak gunung ini sungguh menyengat sekali. Sesekali kami beristirahat melepas lelah sambil merenung kami mendengarkan lagu Ebit G. Ade yang berjudul “Berita Kepada Kawan” supaya menambah semangat baru buat perjalanan nanti,,, kami pun tak menyerah begitu saja berbagai upaya kami lakukan sebab jalan menuju puncak masih jauh, medan jalan yang tak begitu baik membuat tenaga kami semakin terkuras Abiiiisss.

Kalau perjalanan tadi melewati rumput rumput yang tinggi, kali ini dilanjutkan dengan memasuki areal hutan yang agak rimbun tak jarang dari kami harus merayap seperti mau perang saja he he he,,, pukul 07:02 wib dengan suhu udara sekitar 18° Celcius kami pun masih dihutan istirahat sebentar lagi nich kami lakukan sambil mendengarkan lagu Ebit G. Ade “Elegi Esok Pagi” sebagai penambah semangat baru,,, Alhasil satu lagu cukup buat kami istirahat, lalu perjalanan di lanjutkan lagi sampai pukul 07:33 wib kami baru tiba di Pos Guci pada waktu itu suhunya sekitar 18° Celcius, lagi lagi istirahat sebentar kami lakukan agar supaya untuk melemaskan otot yang sudah kaku, kami tak pernah memaksakan diri berjalan terus menerus bila kami lelah ya istirahat aajaaa, gampang kan…
Jalan yang berliku liku tak menghambat mata kami untuk memandang alam sekitarnya sambil mendengarkan suaru burung yang berkicau disaat mereka sedang memamerkan suaranya, bila kita berjalan disini awas dan hati hati itu sudah menjadi kunci utama buat kami sebagai pendaki karena banyaknya sekali ranting ranting pohon yang berduri yang nantinya akan membuat luka buat tangan kita, dan akhirnya Waoooow Subhanallah Kereeen kami pun tiba dipuncak terbayar abis sudah perjalanan yang melelahkan ini tepat sekali arah jam sudah menunjukan waktu 09:16 Wib. Puncak gunung mempunyai lubang yang membentuk sebuah lingkaran besar kedalam, dan menjadikannya sebuah kawah mati, pada hari ini cuaca sangat bersahabat sekali apalagi di atas puncak gunung sungguh menyenangkan bagi kami, bila kami beruntung maka dapat melihat tiga buah danau dari atas gunung tapi kali ini kami hanya dapat melihat 2 buah danau yang sejajar dan nantinya bila kita lihat dengan mata telanjang seperti membentuk sebuah mata, maka kami pun mengabadikan momen ini dengan berfoto foto di atas gunung dan itu sudah pasti menyenangkan buat kami, sebentar dipuncak membuat kami tak betah lama lama di atas gunung, akhirnya kami pun memutuskan untuk turun kembali kebawahnya puncak yaitu disebuah bongkahan batu besar yang tegap menghadap arah Gunung Semeru…

Tak lama kami duduk dan berdiam di batu besar membuat istirahat kami pun menjadi tak betah, seolah kami harus memutuskan untuk turun dari sini, pembagian air minum kami lakukan agar supaya diperjalanan nanti kami tak membongkar tas ransel biar menghemat tenaga, berjalan turun dari puncak ini kami harus di ingatkan harus hati hati karena tak jarang dari kami berkali kali harus rela jalan kaki terpleset diantara semak semak yang belukar dan apabila kita tak waspada maka bisa terjatuh, jalan yang sempit membuat tenaga kami harus kerahkan total, pukul 12:12 wib kami masih di Pos Guci sebagai tempat istirahat tapi kali ini kami tak menemukan air sama sekali yang ada hanya tetesan batu yang nantinya akan mengeluarkan air berwarna putih.

Alhamdulillah Ya Allah, hutan sudah kami lewati setelah itu padang rumput yang luas yang harus kami lalui, diperjalan turun puncak kali ini hampir saja kami terpisah dari jalan sebenarnya tak hanya itu tingginya rumput membuat pandangan kami terhalang, untuk mencari solusi seperti ini kami harus tenang dan tak boleh gegabah apalagi dalam mengambil suatu keputusan, maka diantara kami melihat disekeliling kanan kiri, tak selang berapa lama kemudian kami menemukan jalur pendakian yang kami lalui sebelumnya, jalan kaki digunung emang sudah pasti membuat kaki kita menjadi kaku dan lelah, tak lama kemudian salah satu diantara kami Junedz “Uneeet”” terjatuh 2 meter dari bongkahan batu yang diinjaknya, dan bersyukur tidak terluka parah hanya tergelincir dan mengalami terkilir di pergelangan tangan saja, jalan santai kami lakukan lagi karena kami tak memaksakan diri disaat kondisi seperti ini kami pun hanya berdo’a, dan menghemat persediaan air yang ada, pukul 13:30 wib kami pun tiba di Pendopo Mbah Citro, dibalik semua Gunung Lemongan ini banyak sekali menyimpan aneka flora dan fauna yang menghiasi Gunung Lemongan menjadi semakin lengkap akan kekayaan, sudah pastinya perjalanan kami di gunung ini menjadi tempat pendakian kesekian kalinya, apalagi Gunung adalah perhiasan alam yang tak ternilai harganya, bila kita melihat ciptaan Tuhan yang sebesar ini, maka apalah daya kita sebagi manusia yang tak mau bersyukur sebab banyak sekali penebangan liar yang dilakukan dihutan yang nantinya akan menjadikan bencana bagi negeri kita, dan kita menjadi Warga Negara Indonesia wajib untuk menjaganya dan melestarikannya sebagai generasi selanjutnya.

Mbah Citro sendiri adalah seorang yang dipercaya masyarakat menjadi sang juru kunci Gunung Lemongan, tak banyak yang kami ketahui dari Mbah Citro selain orangnya yang sederhana dan gaya hidupnya yang tak terlalu mewah, menjadikannya dia betah untuk tinggal di gunung yang jauh dari perkotaan dan ramainya penduduk di usianya yang udah mencapai 100 tahun lebih ini, kami pun duduk di emperan pendopo tersebut, tak lama kemudian kami melihat Mbah Citro sedang duduk dikursi, terus kami memberanikan diri untuk bertemu dengan Mbah Citro sang juru kunci Gunung Lemongan untuk sowan dan berfoto dengan Mbah Citro, itu pun tak gampang bagi pendaki lain, kami adalah orang yang paling beruntung diantara pendaki sebelumnya menurut mereka yang ada di pendopo, tak banyak orang yang dapat bisa bertemu langsung dengan Mbah Citro sendiri. Di usianya yang sudah mencapai 100 tahun lebih itu, Mbah Citro masih terlihat sehat, segar dan tegar.
Hari semakin sore saja dan matahari udah mau terbenam seakan mau bergantian dengan datangnya malam, maka kami pun memutuskan pulang naik ojek, sebenarnya kami masih berat meninggalkan tempat ini, apalagi melihat wajah kepolosan mereka yang seakan tak kami temukan di areal perkotaan, dari kami ada yang ingin menginap soalnya besok masih hari minggu, tapi salah satu dari kami ada yang gak setuju, maka kami pun memutuskan untuk pulang, pukul 17:00 wib kami pulang dan berpamitan dengan keluarga Mbah Citro perjalanan pulang kami ini di antar oleh mas tukang ojek, sungguh pengalaman yang spesial buat kami di Gunung Lemongan ini. Sampai Jumpa “Gunung Lemongan” Semoga lain hari kita ketemu lagiii,,,,Salam “PASUKAN LANGIT

Hikmah yang dapat kami ambil dari Gunung Lemongan (1618 Mdpl) adalah : dari peristiwa-peristiwa yang kami alami selama mendaki Gunung Lemongan ini semakin menambah iman kita kepada Allah SWT sekaligus rasa syukur terhadapnya, dan lagi dapat bertemu dengan sang juru kunci Gunung Lemongan yaitu “Eyang Citro”, dibalik semua itu ada hal lain yang menjadikan kami cinta akan kekayaan Pariwisata Indonesia….Kami Cinta Indonesia...Bumi Nusantara...

(Pasukan Langit, 24 November 2010)

2 komentar:

  1. Foto pemandangannya kurang....
    foto narsis terus
    hahaha...

    BalasHapus
  2. wk...wk...wk...iyo je...kalau foto2nya ada di facebook...ha...ha...

    BalasHapus