Selasa, 02 November 2010

Liverpudlian : Loyalitas, Idealisme dan Keunikan



Sebelum diberi status kota pada 1880, Liverpool dikenal sebagai sebuah borough (area dengan tingkat pemerintahan lebih rendah di Inggris) yang didirikan oleh King John pada tahun 1207. Luas areanya relatif kecil, hanya sekitar 110 km persegi di daerah city area. Di daerah tersebut banyak dijumpai tempat yang menarik seperti Albert Dock, Liverpool Cathedral, atau pusat perbelanjaan terbesar di Liverpool yang baru dibuka tahun 2008, Liverpool ONE (disini juga terdapat toko official merchandise Liverpool FC yang terbesar). Liverpool juga cukup dikenal akan arsitekturnya seperti The Three Graces (terdiri dari Royal Liver Building, Cunard Building, dan Port of Liverpool Building), yang terletak di Pier Head, dekar Albert Dock). Sungguh bangunan-bangunan yang sangat indah. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa China Town di Liverpool adalah salah satu kawasan paling tua dan paling besar di seluruh eropa. Sebuah Chinese Gate di sana bahkan disebut-sebut merupakan yang terbesar di luar Cina.
Liverpool boleh dikatakan berbeda dengan kota-kota lain di Inggris. Sebagai kota pelabuhan, sebagian besar penduduknya dulu termasuk ke dalam pekerja (working class) dan mungkin karena itu pula mereka mempunyai aksen yang berbeda dari orang2 Inggris lain (dikenal sebagai Scouse Accent). Ditambah lagi Liverpudlian, panggilan untuk orang Liverpool juga dikenal dengan rasa humor mereka. Tidak aneh bila sepakbola menjadi sangat besar di Liverpool. Sebagai working class people, Liverpudlian senang berkumpul bersama di pub, mengobrol dan tertawa. Tentang apa? Apa lagi yang suka dibicarakan para pria ketika berkumpul selain olahraga, terutama sepakbola?
Ada satu hal menarik yang perlu diketahui tentang pendukung sepak bola di Inggris, baik di Liverpool maupun kota lain. Walau saling mencemooh lewat lagu-lagu, tak sedikit pun mereka terprovokasi. Para pendukung ini terus saja bernyanyi memberi support tim. Seusai pertandingan, mereka tetap tersenyum (kecuali tim mereka kalah ya, tapi tetap saja mereka bersikap lapang dada). Jadi, di zaman sekarang ini tawuran gara-gara sepakbola seharusnya sangat jarang ditemui di Inggris (kecuali beberapa kasus yang memang tak terhindarkan). Sangat kagum dengan sikap sportif mereka. Tim pilihan seseorang itu sebenarnya merefleksikan sedikit dari pribadi mereka. Bisa dilihat bahwa Liverpool adalah sebuah tim yang memiliki loyalitas, idealisme, dan keunikan. Jadi, seorang Liverpudlian sejati juga memiliki salah satu dari nilai-nilai tersebut.
Pertama : Loyalitas
Walau liverpool belum pernah lagi mencicipi gelar liga inggris sejak tahun 1990, para pendukung sejatinya tetap loyal memberi dukungan. Banyak pendukung Liverpool yang selalu digoda temanya, "Ngapain sih kamu masih membela Liverpool? Sudah tidak pernah juara, sekarang kalah melulu lagi! Mending bela tim A yang yang sering juara belakangan ini". Bagi Liverpudlian ini adalah sebuah latihan mental dan kesempatan menunjukkan loyalitas yang semakin jarang kita lihat di dunia ini. Loyalitas dapat dirasakan di hati para Liverpudlian. Saya kecewa dan sedih bila ada orang yang hanya mengaku mencintai Liverpool ketika sedang berjaya.
Kedua : Idealisme
Idealisme karena Liverpool tidak pernah mengambil jalan pintas. Di saat banyak tim-tim Inggris melesat karena uang, Liverpool tetap mencoba bangkit dengan kemampuanya sendiri. Orang-orang mungkin bisa beragumen bahwa sialnya Liverpool saja yang punya pemilik pelit (Goerge Hiks dan Tom Gillet sebelum diaukuisisi NESV John Henry sekarang). Tapi bukan itu yang dimaksud seperti kata orang-orang dan bukan juga dalam pembatasan ketat dalam pembelian pemain atau karena keterbatasan biaya, akan tetapi Liverpool berusaha membangun diri dalam suatu proses. Liverpool tidak suka sesuatu yang instan, seperti dalam semusim bisa mendatangkan 10 pemain bintang dan langsung juara. Bagi Liverpool itu hanya menunjukan kekuatan dan kehebatan uang yang ternyata memang bisa membeli sebuah gelar. Seluruh Liverpool dan Liverpudlian berharap Liverpool FC juara Liga Inggris bukan karena uang semata, namun dengan kerja keras dan perjuangan.
Ketiga : Keunikan
Liverpool berbeda dari tim-tim Inggris lain. Para pesepakbola sejati yang tidak hanya mengincar uang dan ketenaran akan merasakan betapa bangganya menjadi seorang pemain Liverpool. Mengapa? Karena Liverpool memiliki sejarah dan tragedi yang sangat menyentuh hati. Siapa yang mempunyai tragedi dan berakhir dengan perjuangan para pendukung Liverpool hingga hari ini? Siapa yang pendukungnya, walaupun dipenjara by mistake, tetap tidak mau melepaskan season ticket dan lagi-lagi selalu didukung oleh pendukung lain? Hanya satu yang diharapkan oleh semua pendukung (dan terlebih pemain) yaitu sebuah kemenangan. Seorang suporter sejati selalu menunggu Liverpool bangkit dari keterpurukan.
YNWA (You'll Never Walk Alone)...
(International Relations BIGREDS-Indonesia's Official Liverpool FC Supporters Club)
(Pasukan Langit, 2 November 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar