Senin, 14 Maret 2011

Gunung Merbabu (3142 Mdpl) Via Wekas







Gunung Merbabu (3142 Mdpl) merupakan salah satu gunung yang menjadi obsesiku yang telah lama aku impikan. Ketika berada di Puncak Garuda, Gunung Merapi aku pernah berjanji bahwa aku pasti akan kembali lagi untuk kugapai Puncak Merbabu itu. Alhamdulillah Tuhan mengizinkan keinginan itu bersama teman2 (Edo, Ridho, Eri, Bang Mail dan Firman “Queen”) aku memulai petualangan itu. Hari Jum'at malam team kami berangkat dari Kota Malang menuju Surabaya dilanjutkan dengan naik bus menuju Solo. Tetapi diluar dugaan bus jurusan Solo selalu penuh sesak penumpang karena bersamaan dengan libur Hari Raya Nyepi membuat kami kesulitan mendapatkan bus. Akhirnya kami putuskan untuk naik bus jurusan Semarang yang tidak sepadat bus jurusan Solo malam itu meskipun perjalanan akan memakan waktu yang lebih lama, akhirnya sampai Semarang kami melanjutkan naik bus jurusan Salatiga dan turun di Pertigaan Pasar Sapi lanjut lagi naik minibus jurusan Kopeng, Magelang. Karena kami akan melakukan pendakian lewat Jalur Wekas, maka kami tidak turun di Kopeng yang menjadi jalur utama pendakian Gunung Merbabu tetapi turun di Gapura Kaponan berjarak 9 km dari Kopeng. Berikut setitik cerita catatan perjalanan kami dalam pendakian kali ini ke Gunung Merbabu (3142 Mdpl) Via Wekas :

Gapura Kaponan-Basecamp Wekas : 2 Jam

(Sabtu, 14.15-16.15 WIB)

Dari Gapura Kaponan menuju Basecamp Wekas dengan jarak tempuh 3 km perjalanan dapat ditempuh dengan menaiki ojek atau berjalan kaki. Karena kami ingin menikmati setiap detik langkah kami sambil menikmati pemandangan Gunung Telomoyo yang sangat mirip suasana kabutnya bila dilihat dari kejauhan seperti di Gunung Penanggungan, Jawa Timur akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju basecamp. Jalan menuju basecamp udah tertata rapi dengan melewati perkampungan penduduk dan ladang penduduk yang hijau. Tenang dan sejuk itulah suasana pedesaan yang kami rasakan sebagai aroma terapi diantara indahnya senja hari dibalik pepohonan cemara dan pinus. Tak terasa 2 jam perjalanan kami lalui dan akhirnya sampai di Basecamp Wekas dengan disambut hujan deras yang mulai turun. Alhamdulillah telah sampai pada basecamp tepat sebelum hujan turun dengan deras.

Basecamp Wekas-Camping Ground : 4,5 Jam

(Sabtu, 20.15-12.45 WIB)

Sambil menunggu hujan reda kami memutuskan untuk istirahat di basecamp sambil melakukan izin pendaftaran dan membeli pernak-pernik yang ada di basecamp yang tentunya semua berhubungan dengan Gunung Merbabu. Hujan yang tak kunjung reda membuat kami bertahan lama di basecamp sambil memasak bekal makanan yang kami bawa. Pukul 20.15 Wib. Kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Camping Ground karena hujan udah mulai reda. Perjalanan malam itu cukup melelahkan karena jalan yang terus menanjak melewati perkampungan penduduk akhirnya sampai pada batas bangunan kecil yang terdapat makam perjalanan terus dilanjutkan sampai masuk ke dalam hutan dengan vegetasi hutan yang tidak begitu rapat sehingga sesekali ketika kabut menghilang kami bisa melihat pemandangan Kota Magelang dan Kota Salatiga yang sangat indah dengan lampu2 dibawah sana. Perjalanan terus menanjak tidak ada bonus sama sekali dan ditengah perjalanan hujan rintik2 dan angin kencang sangat membuat langkah perjalanan kami semakin terkuras dan suhu udara yang dingin membuat nafas kami terus berpacu seiring oksigen yang semakin tipis. Ditengah perjalanan entah aku pribadi salah lihat atau tidak secara pribadi aku melihat seolah2 ada dua orang sambil duduk disemak-semak baris ke belakang membentuk dua bayangan putih di bawah pohon. Ketika headlampku kuarahkan ke bayangan tersebut tidak ada tetapi ketika aku matikan bayangan putih itu terlihat jelas sekali. Entah teman2 melihat atau tidak, Wallahualam hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Akhirnya perjalanan berakhir di Camping Ground dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini karena terdapat sumber mata air yang disalurkan melewati saluran pipa air. Banyak pendaki yang ngecamp mendirikan tenda disini sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak esok hari.

Camping Ground-Pos Hellypad : 1 Jam 15 Menit

(Ahad, 07.00-08.15 WIB)

Esok hari pemandangan di Camping Ground sangat indah. Kabut tipis membuat pemandangan terlihat eksotis. Jajaran pegunungan terlihat sangat bagus di sebelah kiri kami terlihat diatas bukit terlihat Pos Pemancar dari Jalur Tekelan. Kalau kita berjalan menuju sumber air maka akan terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Setelah sarapan pagi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak sedangkan salah seorang teman kami berjaga di Camping Ground menjaga tenda kami karena perjalanan semalam yang terus menanjak membuat kaki salah seorang dari team kami mengalami kram kaki. Perjalanan menuju Pos Hellypad terus menanjak naik melewati punggungan bukit yang membuat peluh keringat kami semakin bercucuran. Kondisi vegetasi hutan menuju Pos Hellypad agak sedikit tertutup rapat dan sesekali kami harus melewati pohon tumbang yang menutup jalan. Sebelum Pos Hellypad kami bertemu pertigaan dengan Jalur dari Kopeng. Kemudian jalan menjadi satu menuju Pos Hellypad. Kondisi di Pos Hellypad sangat terbuka dan angin kencang sekali. Dari sini kita dapat melihat Puncak Syarif (3119 Mdpl) )dan puncak tertinggi Puncak Kenteng Songo (3142 Mdpl).

Hellypad-Puncak Kenteng Songo : 1 Jam 40 Menit

(Ahad, 08.25-10.05 WIB)

Dari Pos Hellypad kondisi angin kencang dan jalanan semakin ekstrim dan kami harus melewati tempat yang bernama Jembatan Setan yang disebelah kanan kiri kami adalah kawah dan jurang. Sesekali kami mencium bau belerang yang sangat menyengat apabila tidak dan akan membuat kepala menjadi pusing dan mual. Kondisi medan yang terbuka dan angin kencang serta kabut yang cepat datang sehigga jarak pandang terbatas memang sangat rawan apabila kita tidak waspada. Diperlukan kehati-hatian melewati Jembatan Setan ini karena telah banyak pendaki yang menemui ajalnya disini karena angin kencang disertai badai dan kedinginan atau karena jarak pandang yang terbatas maka bisa dengan mudah terperosok jatuh ke dalam jurang dan kawah. Perjalanan terus menanjak dan tantangan menuju puncak adalah angin kencang dan kabut yang cepat datang sehingga menutup jarak pandang apalagi disertai kondisi medan yang terbuka dengan kanan kiri jurang dan kawah. Sebelum puncak kita akan bertemu percabangan dimana ke sebelah kiri menuju Puncak Syarif (3119 Mdpl) dan ke sebalah kanan menuju puncak tertinggi Puncak Kenteng Songo (3142 Mdpl). Menuju Puncak Kenteng Songo (3142 Mdpl) dari percabangan sini masih dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit lagi. Sebelum puncak kita harus melewati satu tantangan lagi yaitu Jalur Traverse (Ondho Rante) dimana kita harus berpegangan pada tebing untuk melewati medan ini dimana lebar jalan hanya 50 cm. Setelah melewati Jalur Traverse (Ondho Rante) perjalanan semakin menanjak sampai akhirnya sampai pada puncak dimana terdapat Kenteng berlubang berjumlah 5 buah dimana di lubang tersebut banyak air yang menggenang dari air hujan. Banyak pendaki yang mengira ini adalah Puncak Kenteng Songo padahal ini adalah Pasar Dieng (Pasar Bubrah) karena letaknya yang sejajar dengan Puncak Kenteng Songo. Untuk menuju ke Puncak Kenteng Songo dari Pasar Dieng (Pasar Bubrah) kita terus berjalan ke kanan akhirnya sampai pada puncak tertinggi Puncak Kenteng Songo (3142 Mdpl). Ucapan syukur kami ucapkan pada Allah SWT akhirnya kami berhasil melewati perjalanan panjang dari Bumi Arema menuju Bumi Sakti Magelang tuk menggapai Puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu (3142 Mdpl). Kenteng Songo sendiri yang seharusnya berjumlah sembilan ternyata hanya berjumlah lima yang kesemuanya dapat kita lihat di Pasar Dieng (Pasar Bubrah). Sedangkan yang empat lainya berada di Puncak Kenteng Songo telah hancur dan hilang, akan tetapi konon meskipun telah hancur ada orang yang bisa melihat keempat Kenteng yang hancur itu meskipun tidak bisa dilihat dengan kasat mata kita.

Pemandangan di Puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu (3142 Mdpl) waktu itu sangat bagus sekali. Tampak jelas Gunung Merapi terlihat puncaknya tertutup kabut belum lagi pemandangan tak kalah indahnya Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Telomoyo dan Gunung Lawu tampak terlihat jelas sekali. Suhu di Puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu (3142 Mdpl) berkisar rata-rata antara 10-12 Derajat Celcius waktu itu. Hijaunya alam pegunungan, putihnya kabut dan awan menunjukkan Nusantara ini menawarkan keelokan alam raya yang patut kita syukuri dan tentunya wajib kita jelajahi. Sampai jumpa pada petualangan2 kami selanjutnya...Salam Lestari...Hidup selalu Nusantara...

(Pasukan Langit, 14 Maret 2011)

4 komentar:

  1. Selalu mupeng liat foto-fotonya, fufufu ^_^V
    Tulisan2 di blog ini mantep Pak kalo dibikin buku, udah lengkap banget ttg pendakian

    BalasHapus
  2. ha...ha...pengen kalao ada sponsornya....:)sebuah catatan buat kenang2an kelak...

    BalasHapus
  3. salam lestari mas. tak tahu saya harus ninggalin jejak dimana, saya rasa disini saja. teruslah berkarya, lestari alamku

    BalasHapus