Selasa, 10 Mei 2011

Gunung Wilis (2300 Mdpl) Via Tulungagung






Setelah berpetualang dari Gunung Merbabu awal maret 2011 kemarin, petualangan pendakian kami selanjutnya menuju ke Kota Tulungagung dimana team kami akan ikut berpartisipasi dalam rangka pendakian bersama Gunung Wilis Bagian Selatan (2300 Mdpl) yang diselenggarakan oleh Ringaspati Adventure Tulungagung. Team kami yang berangkat adalah Cowok (Junaedi ’Junedz’ Mulyo Prayidno, Iwan Kapatualang, Awaludin ’Otoy’ Yudhana, Doedo Agus dan Salvian) serta Cewek (Galih dan Fenny Dwi). Lereng Gunung Wilis terkenal daerah penghasil susu sapi dan sayuran ( kobis, kol, wortel, sawi dll ). Gunung tersebut dapat dikatakan merupakan gunung yang masih dikatakan alami ‘perawan’ karena pada dasarnya lokasinya yang jauh dari pusat kota dan keramaian apalagi akses ke lokasi dengan kendaraan umum juga lumayan sulit didapatkan sehingga jarang digunakan untuk pendakian. Dalam setiap perjalanannya ke puncak banyak juga ditemui tanaman alami khas pegunungan (suplir, anggrek, namun jarang ditemui edelweiss) yang tidak dapat ditemui dari gunung - gunung lain dan juga masih terkenal dengan binatang buasnya dan liar semisal ular phiton, monyet, babi hutan, bahkan diantara personil team kami waktu turun pendakian di celah-celah pohon besar secara tidak sengaja melihat ular sebesar paha manusia dewasa. Bagi kami selama berpetualang mendaki gunung, Gunung Wilis inilah merupakan gunung terberat dari gunung-gunung yang pernah kami daki, jalur pendakian benar-benar mampu mengoyak semangat kami. Diperlukan semangat yang lebih untuk mendaki Gunung Wilis ini meskipun ketinggianya hanya 2300 mdpl. Dalam pendakian kali ini kami berangkat jumat malam dan menginap di rumah otoy di tulungagung. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada keluarga otoy yang telah meberikan fasilitas menginap dan makan enak selama dua hari serta antar jemput transportasi. Sabtu pagi kami memulai pendakian tepat pukul 10.00 Wib. Berikut setitik catatan perjalanan pendakian team kami :


Desa Geger-Candi Penampihan (700 Mdpl)

Perjalanan diawali dengan melalui jalan makadam melewati desa terakhir sampai menuju Candi Penampihan. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat terbuka kita dapat melihat kebun-kebun dan sawah penduduk dimana sesekali kita bertemu dengan penduduk sekitar yang sedang bekerja dengan ramah senyumnya ciri khas pedesaan. Setelah 30 menit berjalan kita sampai pada Candi Penampihan, sebuah candi hindu dimana kita dapat menemukan banyak sesaji yang baunya sangat menyengat. Candi ini memang dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Di depan candi ini terdapat tanah datar yang luas bisa buat ngecamp maupun istirahat melepas lelah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.


Candi Penampihan-Watu Godek (1600 Mdpl)

Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati sebelah kanan candi lurus melewati jalan berbatu kemudian berbelok ke kiri setelah 15 menit berjalan kita akan menemukan sungai pertama. Disini kita dapat melepas lelah dengan menyiram tubuh kita dengan air sungai yang sangat jernih sehingga badan menjadi segar. Perjalanan dilanjutkan menyeberangi sungai terus naek ke atas sehingga sampai pada kebun tebu. Disini kita melewati jalan setapak di tengah2 pohon tebu terus menerobos masuk diantara kebun tebu sampai kita menemukan sungai yang kedua. Sungai kedua ini merupakan batas antara kebun dan memasuki area hutan. Memasuki wilayah hutan jalanan mulai menanjak naik. Cobaan itu mulai datang, tidak ada dari kita yang terkena lintah (binatang penghisap darah) belum lagi hujan mulai datang dengan derasnya membuat jalanan menjadi licin dan berlumpur. Setelah beberap jam berjalan tanda2 hujan mulai reda belum tampak, sampai Watu Godek hujan masih turun dengan deras. Kami beristirahat sebentar di Watu Godek sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Vegetasi hutan disini sangat rapat kami tidak dapat leluasa melihat pemandangan dari kejauhan apalagi hujan dan kabut.


Watu Godek-Puncak Gunung Wilis (2300 Mdpl)

Dari Watu Godek perjalanan mulai semakin berat. Kami harus melewati beberapa tempat menyelinap diantara beberapa pohon besar yang melintang jalan maupun tumbang yang sangat lembab udah pasti banyak dijumpai binatang lintah. Karena jarang terkena sinar matahari, di batang-batang pohon banyak ditumbuhi lumut. Hal ini dikarenakan cuaca yang sering berkabut dan hujan serta sinar matahari yang tidak bisa masuk ke dalam hutan. Jalanan becek dan berlumpur karena hujan deras menjadi tantangan tersendiri sepanjang perjalanan mendaki. Badan kami belepotan penuh kotoran dan tidak jarang kami harus terpeleset jatuh di setiap tanjakan. Sampai pukul 9 malam kami belum sampai pada puncak. Akhirnya karena hujan tidak mereda, kami memutuskan mendirikan tenda di tengah2 jalan yang ternyata puncak tinggal 30 menit lagi. Kami mempersiapkan perbekalan yang cukup berlimpah yang kami bawa, malam itu kami memasak makanan yang kami bawa yang tentunya mengandung karbohidrat dan protein tinggi. Malam itu suasana di dalam hutan sangat tenang. Hujan mulai reda dan tidak ada kejadian2 aneh yang kami jumpai malam itu. Hanya terdengar suara2 binatang malam yang sedang bermain dari kejauhan diantara lembutnya angin malam. Akhirnya esok hari telah tiba, embun2 mulai memancarkan keelokanya. Kabut2 tipis menerobos diantara jari jemari dedaunan hutan. Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal sedikit lagi. 30 menit berjalan kami melewati hutan dan jalur mulai terbuka ditandai dengan banyaknya rumput ilalang dan pohon besar yang mulai jarang. Puncak Gunung Wilis (2300 Mdpl) ditandai dengan adanya batu yang tersusun bertumpuk. Karena kabut tebal kami tidak bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Akan tetapi sempat kita menikmati momen dimana kita dapat melihat puncak-puncak lain dari Gunung Wilis seperti Puncak Liman yang dapat didaki dari wilayah Nganjuk yang termasuk puncak tertinggi dari Gunung Wilis ini. Salam Pasukan Langit, sampai berjumpa lagi dalam petualangan-petualangan kami selanjutnya.

(Pasukan Langit, 10 Mei 2011)

4 komentar:

  1. mantap,, jadi pengen ke wilis yg dr TA.
    trus puncak yang lwt TA itu namanya puncak apa ya bro??

    BalasHapus
  2. Nama puncaknya kalo orang2 lebih suka memanggilnya "Puncak Selatan Wilis Tulungangung"...mantep bro...hutan yang masih alami tertutup...puncaknya juga...awas banyak lintah atau pacet...melewati dua sungai kecil sangat bagus...kami sempat nyasar waktu turun sehingga baru jam seluluh malam sampai perkampungan penduduk...:)

    BalasHapus
  3. lewat nganjuk mas. ad puncak liman salah satu puncak gunung wilis jg..

    BalasHapus
  4. via nganjuk ada namanya liman ama limas ya brow...kapan2 pengen eksana juga :)

    BalasHapus