Selasa, 07 Juni 2011

Gunung Panderman (2045 Mdpl) Via Kota Batu - 2011






Gunung Panderman (2045 mdpl), tak pernah bosan aku mendaki gunung satu ini. Setelah berhasil melakukan pendakian ke Gunung Wilis bulan kemarin, untuk bulan ini team kami memang tidak ada rencana mendaki lagi. Setelah diadakan pertemuan dengan teman2 maka banyak yang mengusulkan untuk refreshing sejenak ke Gunung Panderman sekaligus sebagai pendakianku ke delapan kalinya ke gunung ini. Sabtu ba’da maghrib kami berangkat ke Kota Batu menuju Desa Toyomerto sebagai desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke Gunung Panderman. Setelah menitipkan sepeda motor dan mengurus perizinan, ba’da isya’ kami langsung memulai pendakian melewati Pos I yaitu Pos Pendaftaran berjalan ke arah kiri lurus langsung menuju ke Pos Pet Bocor atau sumber air (1330 mdpl). Kami beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengisi persediaan air karena disini adalah sumber terakhir karena setelah ini tidak dijumpai sumber air lagi sampai puncak.


Setelah mengisi persediaan air perjalanan kami lanjutkan kembali. Kami melewati jalur sebelah kiri menyusuri lereng Gunung Bokong terus menanjak naek menuju Pos Latar Ombo. Perjalanan menuju Latar Ombo diharap hati2 apalagi bila melakukan perjalanan malam karena sebelum Latar Ombo ada percabangan tepatnya setelah pohon besar. Jalan yang benar adalah kita ambil jalan ke kanan sedangkan jalan ke kiri akan menuju Gunung Bokong dengan jalur yang sangat curam. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan kami sampai di Pos Latar Ombo (1600 mdpl). Di Latar Ombo udah ada dua tenda dari pendaki lain yang udah sampai duluan dan mereka memang tidak ke puncak, tetapi ngecamp di Latar Ombo. Kami disini beristirahat sebentar sambil mengisi perut yang sejak tadi udah keroncongan. Cuaca malam itu sangat cerah bintang2 terlihat sangat indah di angkasa.


Setelah cukup beristirahat di Latar Ombo, perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Watu Gede (1730 mdpl) yang dapat ditempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Watu Gede ditandai dengan banyaknya batu2 besar yang berserakan dimana2. Sunyi dan tenang begitulah yang kami rasakan ketika kami tiba di Watu Gede. Kami naek ke atas batu besar dan begitu menganggumkan pemandangan di bawah sana. Kabut waktu itu hilang entah kemana sehingga kami bisa leluasa menikmati pemandangan lampu2 kota yang sangat indah. Di Watu Gede jarang ada pendaki yang ngecamp disini dan lebih banyak memutuskan untuk langsung menuju puncak. Di Watu Gede memang angin cukup kencang karena letaknya yang tepat di bawah puncak. Dari Watu Gede perjalanan dilanjutkan melewati padang ilalang menuju Tanjakan Setan yang cukup menguras tenaga karena jalanan yang terus menanjak.


Di pertengahan Tanjakan Setan akan dijumpai tanah datar yang bisa buat ngecamp untuk dua tenda. Kondisi medan sangat terbuka sehingga pemandangan sangat terlihat jelas sekali tanpa tertutupi pohon. Kami sempat menikmati sambil rehat sejenak dan mengatur nafas sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal 30 menit lagi. Perjalanan semakin menanjak sampai pada percabangan. Menuju puncak ambil jalur kekiri dengan kondisi tanah jalan setapak datar tetapi kita harus hati2 karena sebelah kiri jalan adalah Jurang Banteng. Perlu kehatian2 dalam melangkah apalagi perjalanan malam dengan kondisi jalan yang licin. Sebelum puncak jalan akan menanjak sedikit baru kemudian sampai pada Puncak “Basundara” Gunung Panderman (2045 mdpl) yang ditandai dengan adanya tugu setinggi 1,5 meter. Di Puncak Gunung Panderman kita dapat melihat matahari terbit (sunrise) dengan pemandangan Gunung Arjuna-Welirang di sebelah kiri dan disebelah kanan di sela2 pepohonan nun jauh disana kita dapat melihat gugusan Pegunungan Tengger dan Gunung Semeru. Gunung Panderman sangat cocok untuk mengisi liburan akhir pekan dan sangat disayangkan apabila belum pernah mendaki kesini karena aksesnya yang mudah dijangkau dan terletak di Kota Wisata Batu yang lebih dikenal dengan istilah Swiss Van java Indonesia.

(Pasukan Langit, 7 Juni 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar