Kamis, 28 Juli 2011

Gunung Bromo (2392 Mdpl) Via Probolinggo


Gunung Bromo (2392 Mdpl) merupakan salah satu kawasan wisata yang sangat terkenal tidak hanya dalam ranah regional saja akan tetapi sampai mancanegara. Gunung Bromo termasuk dalam pengelolaan Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Bromo menawarkan keindahan alam yang mempesona. Karena gunung ini merupakan gunung aktif mengakibatkan tanah disekitar menjadi subur dan menjadi tulang punggung mata pencaharian masyarakat sekitar yaitu Suku Tengger. Untuk menuju kesana banyak jalur yang dapat kita tempuh diantaranya jalur Nongkojajar, jalur Gubugklakah, dan jalur Probolinggo jalur yang kami lalui dimana jalan sudah beraspal dan menawarkan pemandangan yang sangat eksotis dengan latar belakang tebing, jurang, hutan, ladang penduduk yang hijau dan tentunya melewati perkampungan Suku Tengger. Di tengah perjalanan kami sempat tidak percaya melihat seorang Ibu Guru yang masih muda nan cantik rela berjalan kaki melewati jalan beraspal pegunungan sehabis pulang mengajar bersama anak-anak didiknya dengan ciri khas senyum canda tawa. Wooow pemandangan menjadi tambah semakin indah menjelang sore itu...xi...xi...xi...


Tepat pukul lima sore kami sampai, langsung menuju daerah rerumputan di pinggiran padang pasir. Meskipun masih terlihat matahari senja sore itu tetapi suhu udara sangat dingin. Kami sempat mengabadikan foto momen rona senja merah diatas langit pertanda matahari mulai tenggelam. Menjelang Maghrib suhu semakin dingin, matahari mulai tenggelam dibalik Gunung Batok dan cepat-cepat kami mendirikan tenda untuk ngecamp. Tak lupa kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Suara2 anjing penduduk di perkampungan Suku Tengger terdengar melolong jauh pertanda hari semakin larut malam. Tiada orang sama sekali hanya kami berenam yang ngecamp pada waktu itu. Tenang, sunyi dan damai sesekali kabut tebal datang sehingga udara benar2 dingin sekali, gitar yang kami bawa tidak bisa kami mainkan karena tangan kami begitu kaku. Akhirnya kami membuat api unggun untuk menghangtkan badan sampai tengah malam baru kami masuk tenda dan istirahat.


Pukul lima pagi kami bangun, matahari masih belum muncul tapi rona2 merah mulai terlihat dibalik kabut tipis. Kami memandang hamparan pasir yang sangat indah. Hamparan rerumputan di tempat kami mendirikan tenda sangat indah dengan butiran-butian embun pagi yang menghiasi. Kami lalu melanjutkan perjalanan melewati padang pasir menuju Gunung Bromo. Disana ada beberapa warung yang buka dan masyarakat yang menyewakan kuda menuju puncak. Untuk mengusir dingin kami berjalan kaki menuju puncak melewati jalanan batu berpasir. Sebelum puncak setelah melewati jalan berbatu dan pasir kami harus melewati anak tangga kurang lebih 250 buah anak tangga yang cukup menguras tenaga.


Akhirnya sampai puncak kita dapat melihat kawah bromo yang selalu mengeluarkan asap belerang. Banyak masyarakat Suku tengger yang menjual Bunga Edelweiss di puncak dengan harga murah antara Rp. 3000,00 – Rp. 5000,00. Kawah Bromo cukup luas dan kita harus berhati2 karena tidak ada pembatas di jurang kawah terutama bagi pengunjung yang membawa anak kecil harus benar2 diperhatikan. Kalau kita naek ke sebelah kiri kawah terus menanjak di puncak tertinggi Gunung Bromo kita dapat melihat Gunung Semeru (3676 Mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Sedangkan di sebelah kanan terlihat Gunung Batok (2440 Mdpl) sangat terlihat menawan. Kalau cuaca cerah kita dapat melihat hamparan padang pasir yang sangat bagus dalam satu rangkaian kawasan Pegunungan Tengger.

(Pasukan Langit, 28 Juli 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar