Rabu, 25 Januari 2012

Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat : Berharap Restu Bumi

Restu Bumi ada, itulah tanda alam percaya pada kita, kita akan menjaganya. Insya Allah. Ada satu kalimat bijak dan bisa di jadikan acuan dan ingatan tentang alam bagi kita semua :

“Ketika engkau sering berteriak dan menangis karena disakiti, tak kah kau sadar bahwa alam dan hutan ini juga berteriak mengerang karena kau sakiti? Betapa engkau telah merusaknya dengan bermacam alasan yang kadang tak masuk akal. Jangan mengeluh saat alam membalas,dengan amukannya yang tak pandang bulu karena terlalu dalam sakitnya”

Perkembangan populasi manusia mau tidak mau membuat kebutuhan akan lahan pemukiman dan industri semakin meningkat. Area hutan disulap menjadi perkebunan dan ladang, akibatnya pohon2 tinggi ditebang padahal sebagai sumber cadangan air dan makanan bagi kelangsungan hidup hutan. Oleh karena itu di zaman akhir ini kita akan sering dihadapkan pada bahaya tanah longsor, banjir bandang maupun puting beliung (pentil muter istilah suroboyoan).

Sebagai contoh satu aja mungkin bisa sebagai penyebab kecil semua ini, seperti yang dijelaskan diatas fungsi pohon besar di hutan selain sebagai sumber air dan cadangan makanan juga bisa sebagai penahan angin yang datang dari puncak turun ke lembah. Mengapa demikian, menurut pendapat saya karena pernah mengalami langsung badai gunung dimana angin berhembus kencang melebihi apa yang sekarang kita alami di kota saat ini, angin kencang yang turun dari atas menuju ke lembah akan ditahan oleh pohon2 besar di hutan sehingga akan menghambat laju gerak angin tersebut. Angin tersebut akan terpecah ketika menerpa pohon sehingga akan melewati celah2 kecil diantara batang dan dedaunan sehingga sehingga tidak lagi berhembus kencang dan pada akhirnya ketika sampai di pemukiman di kota akan menjadi kecil intensitasnya, sejuk, segar, sepoi-sepoi seperti nyiur yang melambai-lambai.

Nah, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi pohon besar di hutan, bisa dibayangkan angin kencang dari puncak tidak ada yang menahan akibatnya sampai bawah pemukiman penduduk dan perkotaan angin tetap kencang dan akan selalu memutar dengan intensitas yang tinggi sehingga mungkin ini yang dinamakan puting beliung. Itu hanya salah satu contoh kecil saja dan dari pendapat saya pribadi yang mungkin bisa jadi salah. Penyebab-penyebab lainya mungkin hanya bisa dibuktikan secara ilmiah maupun secara meteorologi dan geofisika.

Tentunya hanya Restu Bumi yang tahu kapan semua ini akan berhenti dan kapan akan terjadi lagi yang akan terus berulang-ulang setiap tahun, kita tidak akan pernah tahu esok hari.
(Pasukan Langit, 25 Januari 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar