Selasa, 07 Februari 2012

Desa Promasan : Sebuah Kearifan Lokal Yang Masih Bertahan

Desa Promasan, mungkin banyak yang masih belum tahu sebuah desa di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian 1800 mdpl yang hanya terdiri dari kurang lebih 15 rumah dengan hamparan kebun teh yang sangat luas menawarkan sebuah aroma terapi bagi siapa saja yang mengunjunginya. Sepanjang mata memandang kita akan melihat luasnya hamparan kebuh teh yang merupakan sebagai mata pencaharian penduduk desa promasan. Dari puncak Gunung Ungaran kita dapat melihat desa ini dari ketinggian dengan jelas karena desa ini merupakan desa terakhir sebelum kita melanjutkan pendakian ke Gunung Ungaran (2050 mdpl).

Tak jauh dari dari desa tersebut, dibawah bukit teh kita akan menemukan sebuah goa jepang sisa peninggalan zaman jepang dahulu sebagai bukti kekejaman romusha pada waktu itu. Kita juga akan menemukan sebuah kolam dengan pancuran yang sangat jernih dan dingin airnya. Siang hari di desa Promasan terlihat lengang dan sepi hanya beberapa penduduk yang kadang terlihat entah mau ke perkebunan untuk beraktifitas atau mau ke tempat pemandian. Penduduk sini benar-benar memegang teguh kearifan lokal setempat, tanpa ada listrik penerangan, jalan yang masih berbatu (makadam) bisa dibayangkan begitu sulitnya akses menuju kesana. Kepedulian mereka kepada alam terlihat dari kepribadian dan gaya hidup mereka yang jauh dari teknologi. Alat-alat yang mereka pergunakan untuk bercocok tanam masih sangat sederhana, rumah yang masih beralaskan tanah dan masih menggunakan kayu untuk pondasi rumahnya, perkebunan dan lahan perkarangan terlihat bersih tanpa ada sampah yang berserakan benar2 mencerminkan sebuah kearifan lokal yang sangat sederhana. Sebuah kesatuan antara manusia, alam dan lingkungan yang tersinergi dengan baik dan berkesinambungan.

Akses untuk menuju kesana dapat melalui beberapa jalur, dari Kendal kita dapat melalui Boja melalui Kebun Teh Medini dengan jalan makadam berbatu dan apabila bagi anda yang suka tantangan trekking anda dapat melewati jalur Jimbaran sebagai jalur utama. Kami mencoba lewat jalur Jimbaran dan berikut catatan perjalanan kami :

Terminal Terboyo-Pasar Jimbaran : Minibus (07.00-07.45 Wib.) 

Dari Terminal Terboyo perjalanan dilanjutkan naik Minibus menuju Pasar Jimbaran kurang lebih 45 menit perjalanan dengan tarif Rp. 10.000,00. Sampai Pasar Jimbaran yang merupakan pasar tradisional penduduk lereng Gunung Ungaran udara cukup sejuk berkisar 25 derajat celcius. 

Pasar Jimbaran-Pos I Mawar : Ojek (08.00-08.20 Wib.)

Dari Pasar Jimbaran perjalanan dilanjutkan naek ojek kurang lebih 20 menit dengan tarif Rp. 15.000,00 menuju Pos I atau Pos Mawar dengan jalan yang menanjak melewati perkampungan penduduk. Sebelum sampai Pos Mawar kita akan melewati tempat pariwisata Pemandian Umbul Sidomukti. Tempat ini ramai pengunjung dengan pemandangan yang terbuka sehingga Puncak Gunung Ungaran terlihat jelas dari sini. Disini selain terdapat kolam renang juga terdapat taman bermain bagi anak-anak dan bagi yang suka tantangan disini juga disewakan kuda untuk sekedar refresing atau jalan-jalan di sekitar area Umbul Sidomukti ini.

Pos I Mawar-Pos II Pos Bayangan : Trekking (08.30-09.40 Wib.)

Sampai Pos Mawar perjalanan dilanjutkan kembali dengan trekking menuju Pos II atau Pos Bayangan. Dari Pos Mawar kita dapat melihat Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo dan kami manfaatkan semaksimal mungkin suasana aroma-aroma menawan ini. Awal perjalanan kami memulai kawasan hutan ciri khas pegunungan dengan vegetasi yang sedikit tertutup sehingga udara cukup sejuk. Kami sempat mengabadikan foto di sini. Medan kemudian mulai menanjak dan vegetasi mulai terbuka dengan sehingga cuaca menjadi panas dengan jalanan yang berdebu. Di sini kita sempat beristirahat sebentar dan kami baru sadar bahwa banyak terdapat sisa-sisa kebakaran hutan. Perjalanan kami lanjutkan dan medan mulai memasuki kawasan hutan kembali dengan banyak pepohonan sehingga suasana menjadi sejuk, ditengah perjalanan kami melewati sungai dan terdapat air terjun kecil sehingga suasana menjadi segar. Suara air dan angin semilir begitu kami rindukan selama ini. Kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan medan yang semakin menanjak dan akhirnya kita sampai Pos II Pos Bayangan dimana terdapat gubuk peristirahatan dan tanah datar cukup untuk 2-3 tenda. Karena lokasinya di dalam hutan pemandangan tidak terlihat dari sini. Dari Pos I mawar Sampai Pos II Bayangan perjalanan trekking kami 1 jam 10 menit plus istirahat.
 
Pos II Pos Bayangan-Desa Promasan : Trekking (09.45-10.45 Wib.)

Sebelum sampai Desa Promasan kita akan melewati Padepokan Karyatani Sidomukti sebagai tempat orang-orang penganut aliran kepercayaan. Di sini sumber air sangat melimpah ditampung di sebuak kolam penampungan. Setelah melewati hutan dan padepokan, perjalan dilanjutkan melewati kebun kopi dan setelah menemukan pertigaan ikuti penunjuk arah ke kiri jalan menuju puncak sedangkan lurus adalah jalan menuju Medini yaitu jalur lain pendakian lewat Boja, Kendal. Di pengujung jalan kebun kopi kita akan menemukan pertigaan dimana kekiri akan menuju puncak sedangkan ke kanan kita akan melihat hamparan kebun teh dan menuju Desa Promasan. Puncak Gunung Ungaran terlihat indah sekali dari sini. Sampai Desa Promasan kami beristirahat dan mengisi perut yang udah keroncongan sambil melihat pemandangan sekeliling kita akan menemukan Gua Jepang peninggalan zaman penjajahan Jepang dulu dan akan menemukan juga kolam pemandian sebagai tempat kebutuhan sehari-hari Penduduk Desa Promasan. Desa ini sangat terpencil dan jauh dari kota dengan berjumlah kurang lebih 15 kepala keluarga tetapi menawarkan kedamaian alam yang jarang kita jumpai sekarang ini. Disini persediaan air sangat melimpah dan merupakan sumber air terakhir sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Ungaran.

(Pasukan Langit, 7 Januari 2012)

4 komentar:

  1. hmmm.. Desember kemaren ane kesini sob, tapi naik nya lewat medini bareng acaranya anak2 Wapalhi Semarang. :)

    Salam Lestari :D

    BalasHapus
  2. Iya mas...aku lewat Jimbaran karena jalur Medini ga tau rutenya...:) Promasan memang bagus pemandanganya apalagi kebun tehnya...

    BalasHapus
  3. Untuk lewat boja, bisa lewat gonoharjo atau ngelimut, lewat wisata pemandian air panas ngelimut, cuma akses jalanya lumayan ekstrim, untuk yg lebih landai agak memutar lewat gempol,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas...saya belum pernah lewat boja...penasaran juga sama daerah ngelimut...:)

      Hapus