Selasa, 17 April 2012

Hilangkan Egoisme Demi Sebuah Harapan yang Tertunda

(View Dari Puncak Gunung Merbabu)

(View Dari Puncak Gunung Panderman)

Kegagalan pendakian ke Gunung Butak (2868 Mdpl) memberikan pelajaran berharga buatku. Inilah kegagalan pendakian pertama kalinya buatku. Padahal sebelumnya aku yang merencanakan ini semua dan mempersiapkan dengan matang. Ya, sejak November 2011 aku terkena batu ginjal. Waktu periksa ke dokter terdapat terdapat kandungan batu Kalsium Oksalat. Sehari sebelum periksa ke dokter, malam harinya kencing keluar darah tetapi tidak terasa sakit karena masih gejala tahap awal. Sejak November 2011 sampai April 2012 aku harus mengkonsumsi obat untuk menghancurkan batu ginjal. Sebenarnya bulan Desember aku telah sembuh dan dalam masa tiga bulan kedepan masih harus istirahat total untuk penyembuhan. Akan tetapi libur natal aku putuskan untuk ke Ranu Kumbolo bersama kawan-kawan dan tidak sabar menunggu sampai proses penyembuhan total.

Bulan Januari 2012 sakitku kambuh lagi, tetapi bukan karena ada batu ginjal lagi tetapi karena infeksi yang masih belum sembuh yang seharusnya masih harus istirahat tetapi aku ke Ranu Kumbolo. Belum genap tiga bulan aku tidak sabar ingin mendaki gunung lagi. Kali ini aku mengajak teman-teman ke Gunung Butak (2868 mdpl) yang terletak di perbatasan Malang-Blitar. Semua aku persiapkan dengan terencana dan matang. Tepat hari H aku bersama teman-teman berangkat menuju Base Camp Gunung Butak di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Sesampai disana kami sudah disambut oleh Myu dan Bagus dari Team Wanaradja Adventure.

Ternyata apa yang aku harapkan tidak berjalan dengan sempurna. Setelah kesehatan berangsur-angsur sembuh ternyata aku belum mampu untuk melakukan perjalanan 9 jam menuju puncak Gunung Butak. Kondisi stamina fisik jauh berbeda sebelum aku sakit. Terakhir aku naik gunung adalah ke Ranu Kumbolo itupun tidak ke puncak Gunung Semeru. Benar-benar sampai puncak adalah waktu Ke Gunung Ungaran di Semarang sebelum terkena sakit batu ginjal. Salah satu yang membedakan setelah terkena sakit ini adalah badan terasa cepat lelah dan harus meminum air yang cukup banyak. Begitu yang aku rasakan ketika mendaki Gunung Butak, baru 1 jam berjalan dan berada di batasantara hutan dan perladangan penduduk badan terasa capek banget. Sebenarnya sudah sembuh tetapi masih dalam tahap penyembuhan dan seharusnya wajib istirahat sampai 3 bulan lagi kedepan sampai benar-benar sembuh.

Disini aku diuji kesabaranku dan rasa ego dalam diriku. Sebenarnya aku bisa melanjutkan perjalanan sampai puncak tentunya dengan jarak tempuh jauh lebih lama dari teman-teman. Mungkin bisa 12 jam perjalanan menuju puncak. Akhirnya aku putuskan untuk turun kembali ke Base Camp bersama Bagus yang juga dalam kondisi kurang fit waktu itu. Akhirnya bersama Bagus aku mendapat teman baru yang sangat asyik dan bisa memahami kondisi teman seperjalanan. Sepanjang perjalanan turun kami saling bercerita sambil menikmati keindahan alam di desa yang kami lalui.

Dari pengalaman ini aku mendapat pelajaran bahwa bukan puncak gunung yang harus ditaklukkan tetapi diri sendiri. Mendaki gunung hanyalah sebagai perantara untuk memahami dan kemudian menaklukkan ego negatif dalam diri sendiri. Kita hilangkan yang buruk dan kita ambil yang baik. Demi sebuah harapan yang tertunda, saat ini aku memulai lagi dengan sedikit-sedikit meningkatkan stamina fisik dan berusaha untuk hidup sehat. Untuk sementara apabila kangen pada puncak gunung aku lewatkan dengan ke tempat-tempat wisata alam dan jelajah pantai yang masih mudah untuk dijelajahi. Satu hal yang harus kita ketahui adalah dengan mendaki gunung banyak hal positif yang dapat kita petik. Adventure Is Never Die, Because Adventure Is About Togetherness…You’ll Never Walk Alone…

(Pasukan Langit, 17 April 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar