Selasa, 10 April 2012

Kera-Kera Liar Gunung Panderman

 (Melihat Kera Putih Kecil yang Langka)

Gunung Panderman (2045 Mdpl) merupakan sebuah gunung yang menawarkan eksotika tersendiri bagi para pecintanya. Terletak di Kota Wisata Batu membuat gunung ini menjadi lokasi alternatif pendakian yang cukup ramai di akhir pekan. Jalur pendakian normal 3-3,5 jam kita sudah bisa mencapai puncaknya dan akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Dari Kota Batu kita dapat naik kendaraan umum atau sepeda motor menuju Desa Pesanggrahan, Kota Batu lalu dilanjutkan menuju Desa Srebet kita akan sampai pada Pos Pendaftaran. Disini terdapat tempat penitipan sepeda motor di rumah warga dengan harga permalam Rp. 5000,00.

 

 
 (Ngopi Dulu Ahhh...Sedaaap...)

Gunung Panderman sering terjadi kebakaran hutan disebabkan karena karena pembalakan liar maupun karena cuaca panas di wilayah tersebut. Bisa juga disebabkan karena kurang hati-hatinya warga atau para pendaki ketika menyalakan api atau api unggun. Kami pernah mengalami bagaimana tandus dan gersangya sepanjang jalur pendakian bekas kebakaran menyebabkan cuaca sangat panas di siang hari. Untung hujan telah tiba sehingga pepohonan kembali tumbuh dan lahan menjadi subur.  Akan tetapi, ancaman pembalakan liar masih menjadi momok tersendiri bahkan sampai Pos Latar Ombo hutan telah menjadi lahan-lahan pertanian penduduk. Tentunya hal ini dapat menyebabkan erosi tanah yang menyebabkan tanah longsor dan bisa menyebabkan banjir bandang ketika curah hujan tinggi dikarenakan tidak ada pohon-pohon besar yang menghambat aliran air dari puncak. Kelangsungan hidup satwa di sekitarnya juga akan terancam.

 
 (Numpang Eksis Dulu Yaaah...)

Di Gunung Panderman kita masih dapat menemukan beberapa satwa seperti ayam hutan, kera, kera putih yang langka, bahkan macan masih dapat dijumpai yang tersembunyi di hutan cemoro kandang. Kebakaran hutan, pembalakan liar dan tergerusnya hutan menjadi lahan pertanian penduduk mengancam ekosistem mereka di dalam hutan. Bahkan kera-kera dan macan sering terlihat mendekati perkampungan penduduk untuk mencari makanan. Apabila kita mendaki Gunung Panderman, di pagi hari kita akan menemukan puluhan kera-kera liar muncul di hadapan kita dan bahkan berani mendekati tenda untuk mengambil makanan disekitarnya. Tentunya kita perlu hati-hati terhadap barang-barang yang kita bawa. Disini kami sempat memotret kera putih kecil yang sangat langka. Kera ini jarang sekali muncul dan tentunya menjadi fenomena tersendiri bagi kami. Kawanan kera ini memiliki pemimpin yang disegani. Kera ini lebih besar badanya dan sama manusia tidak takut. Kera ini berani mengambil makanan diluar tenda kami bahkan minuman kopi yang kami buat di samping kami layaknya manusia. Saya pribadi sempat kena cakar kera ini, bahkan mie instan yang kami bawa juga dimakan dengan lahapnya.

 
 (Kenyang...Santai Dulu Ahhh...)

Bahkan dari cerita para pendaki, waktu turun dari puncak beberapa pendaki sempat diikuti puluhan kera dan menyerang pendaki untuk mengambil perbekalan di dalam tas. Sampai kapan mereka bertahan hidup tentunya tergantung kita sebagai manusia bagaimana menjaga kelangsungan hidup mereka. Tahun 2011 kemarin akhirnya Pemerintah Kota Batu dan Perhutani memutuskan untuk menutup sementara dari pendakian untuk mengembalikan ekosistem yang telah rusak. Kabar terakhir dari teman-teman yang rumahnya di lereng panderman ketika kontak lewat sms meyebutkan kalau pendakian akhir-akhir ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Mungkin disebabkan karena cuaca di Malang Raya dan Kota Batu yang sering hujan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak para pendaki yang mengurungkan niatnya untuk pendakian. Semoga kabar ini menjadi kabar bagus untuk mempercepat pemulihan ekosistem di Gunung Panderman sehingga kerusakan tidak menjadi lebih parah. Saya pribadi udah hampir setahun tidak melakukan pendakian ke Gunung Panderman dan semoga genap setahun nanti kami bisa melakukan pendakian kesana. Kami rindu suasana Latar Ombo…kami rindu celoteh kera-kera kecil yang liar…kami rindu alamnya…kami rindu semuanya…

(Pasukan Langit, 10 April 2012)

2 komentar:

  1. Ni panderman yang disayangkan adalah jalurnya yang sudah dilalui motor, menjadi rusak...

    BalasHapus
  2. banyak jalan bercabangnya juga sekarang..banyak yang baru pertama kali kesini tersesat....

    BalasHapus