Jumat, 04 Mei 2012

Masih Ada Cerita Dibalik Dinginya Latar Ombo (1600 Mdpl)

Hampir satu tahun tidak ke Latar Ombo, Gunung Panderman (1600 Mdpl). Sudah banyak perubahan yang terjadi disini. Pepohonan semakin lebat tidak seperti satu tahun yang lalu sebagai dampak kebakaran hutan. Sabtu malam bersama tiga kawan petualang, berangkat dari Kota Malang selepas Isya’ langsung menuju Kota Batu menuju Desa Pesanggrahan. Hari semakin larut ketika sepeda motor kami harus menembus kegelapan jalan beraspal yang terus menanjak yang terkenal dengan sebutan Jurang Dowo yang terkenal cukup angker dan terakhir 1-2 tahun kemarin tiga orang pendaki tewas tepat di depan vila kosong. Kebetulan penjaga vila ini adalah ayah dari teman kami sendiri. 

 (Matahari Terbit)

Sampai Desa Seruk kami langsung menuju perumahan warga tempat penitipan sepeda motor. Setelah registrasi dan membayar biaya pendaftaran, kami bertiga langsung menuju Pos Pet Bocor atau sumber air. Telah ada perubahan dulu jalanan masih berdebu sekarang sudah dipaving bagus sampai sumber air. Karena jalanan langsung menanjak membuat nafas kami ngos-ngosan. Sampai Pet Bocor kami beristirahat sebentar. Di atas kami, terlihat  beberapa lampu senter menyorot dari kejauhan. Ternyata banyak juga pendaki yang naik malam itu. Perjalanan kemudian kami lanjutkan lagi melewati kaki Gunung Bokong menuju Latar Ombo. Kami memang tidak berencana ke puncak dan berencana ngecamp di Latar Ombo, dan memang untuk Puncak Panderman ini udah 8 kali aku mendakinya.

(Sun Rise)

Berbeda dengan satu tahun yang lalu, jalur menuju Latar Ombo banyak jalan bercabang sekarang. Bagi pendaki yang baru kesini pasti akan kesulitan menemukan jalur sebenarnya dan bisa tersesat kalu kita tidak bisa menentukan arah jalan yang benar. Sesampai di lembah Gunung Bokong kami beristirahat melepas lelah sambil menikmati indahnya kabut yang turun malam itu. Masih 15 menit lagi menuju Latar Ombo, dan dari atas terdengar sayup-sayup para pendaki dari kejauhan yang telah berada di Latar Ombo. 

(View Gunung Bokong)

Akhirnya setelah melewati jalan setapak yang cukup licin kami tiba di Latar Ombo. Disini lokasinya datar dan cocok untuk mendirikan tenda. Ternyata telah banyak pendaki yang ngecamp disini. View dari sini sangat bagus kita bisa melihat pemandangan Kota Batu dari atas sini. Pepohonon tumbuh subur disini karena beberapa bulan ini curah hujan di Malang Raya cukup tinggi. Halnya ini tentunya sangat bagus sebagai kelangsungan konservasi alam mengingat di Gunung Panderman ini sering terjadi kebakaran hutan. 

(View Eksotika Alam dan Awan)

Pagi hari tiba cuaca sangat cerah, nyanyian burung-burung terdengar riuh sekali di atas pepohonan. Gugusan Gunung Arjuna-Welirang tampak indah menjulang di depan mata. Perlahan-lahan cahaya matahari mulai menyembul dari balik bukit. Menjelang siang cuaca semakin panas dan kami bersiap-siap untuk turun. Tak lupa sampah-sampah yang berserakan kami kumpulkan menjadi satu. Bagi kami, Latar Ombo akan selalu menjadi kenangan sepanjang hidup kami. Di gunung inilah untuk pertama kalinya kami mengenal pendakian gunung. Bagi kami, akan selalu ada cerita  dibalik dinginya Latar Ombo.
(Pasukan Langit, 4 Mei 2012) 

2 komentar:

  1. kalo waktu itu saya ngecamp di watugedhe, lebih tepatnya sebelum watugedhe tapi yg ada batunya juga. bagaimana rasanya ngecamp di latar ombo yaak?

    BalasHapus
  2. oooo..watu gedhe 1 itu....di latar ombo ama di puncak sama aja rasanya bedanya kalo di latar ombo kita ga bisa melihat matahari terbit...he...he...

    BalasHapus