Senin, 16 Mei 2016

Gunung Butak (2868 Mdpl) Via Panderman - Kota Batu

Gunung Butak merupakan salah satu bagian dari gugusan Pegunungan Putri Tidur yang merupakan bagian dari tiga wilayah yaitu Blitar, Malang dan Kota Batu. Terdapat tiga gunung yang bisa dijadikan pendakian dalam gugusan pegunungan ini yang menawarkan keindahan alam yang indah dibalik jalurnya yang terjal dan ekstrem, ketiga gunung tersebut yaitu Gunung Butak (2868 Mdpl), Gunung Kawi (2551 Mdpl) dan Gunung Panderman (2045 Mdpl). Gunung Butak merupakan puncak tertinggi dimana memerlukan waktu 8-10 jam pendakian untuk mencapai puncaknya tergantung ketahanan fisik masing2. Suhu rata-rata di puncak berkisar 8-10 derajat celcius tergantung kondisi cuaca.

Dalam pendakian ini, kami melakukan pendakian ke Gunung Butak melalui jalur Panderman, Kota Batu. Berangkat dari Kota Malang hari jum’at pukul 10 malam, kami bermalam dulu di rumah salah seorang teman di Desa Pesanggrahan lereng Gunung Panderman yang sangat sejuk sebelum memulai pendakian esok harinya. Esok paginya kami memulai persiapan dan berangkat pagi menuju Pos Parkiran untuk menitipkan sepeda motor dengan biaya Rp. 5000,-/malam. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pos Pendaftaran dengan melewati jalan aspal yang menanjak melewati Desa Seruk yang terkenal sebagai sentra budidaya susu sapi perah. Biaya tiket masuk akan dikenakan Rp. 7000,-/orang baik itu yang mau melakukan pendakian ke Gunung Panderman maupun pendakian ke Gunung Butak.

 (Jalur Kanan Menuju Gunung Butak)

(Pos Ketekan)

(Jalur Tertutup Semak)

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalan berpaving agak menanjak sampai kita ketemu pada sumber air yang jernih. Sebelum sumber air bagi yang ingin melengkapi perbekalan bisa singgah di sebuah warung yang terletak di sebelah kanan jalan. Setelah dari sumber air ambil jalur lebar sebelah kanan terus mengikuti jalur sampai terlihat papan penunjuk jalan bertuliskan arah ke Gunung Panderman atau Butak. Jalur mulai sedikit menanjak dan ikuti jalur utama setiap ada percabangan ambil jalur sebelah kanan bagi yang ingin melakukan pendakian ke Gunung Butak. Trek awal pendakian memang banyak bercabang sehingga perlu kehati-hatian dalam menentukan jalur agar tidak salah jalan. Semakin jauh melangkah mulai memasuki kawasan hutan jalanan mulai semakin menanjak bervariasi dengan jalan mendatar sampai pada akhirnya sampai pada wilayah yang dinamakan “Ketekan”, dinamakan ketekan karena disini terdapat lahan luas bisa menampung beberapa tenda dan di pohon apabila kita beruntung kita dapat melihat seekor kera penjaga wilayah itu. Semoga selalu terjaga habitatnya dari tangan pemburu liar. Sewaktu pulang kami tidak beruntung melihat kera kemarin mungkin sedang berlindung karena kondisi waktu itu hujan. Kami sempat menaruh beberapa roti di pohon buat dimakan si kera sebagai rasa terima kasih karena dalam pendakian kemarin sempat mengikuti kami seolah-olah sebagai penunjuk jalan dan memastikan kami aman di jalur yang benar.

 (Pos Pertigaan Dengan Jalur Dau)

 (Alas Kobong Bekas Kebakaran Hutan)

(Jalur Melewati Pohon Tumbang)

Perjalanan dari ketekan, jalur sangat sulit karena terus menanjak dan sangat menguras tenaga dan berakhir pada sebuah tempat berupa lahan datar bisa juga buat membuat tenda. Kami beristirahat disini sambil makan nasi pecel yang kami beli di warung sebelum sumber air. Perjalanan kemudian dilanjutkan memasuki jalan setapak semak2 yang cukup lebat, tanah-tanah basah yang selalu tertutup pohon dan kabut merupakan ciri khas hutan tropis. Perjalanan cukup panjang sampai bertemu pada sebuah lahan datar yang juga bisa sebagai tempat mendirikan tenda. Daerah ini merupakan pertigaan pertemuan jalur pendakian Dau, kabupaten Malang dan dari jalur pendakian Panderman, Kota Batu.

 (Jalur Melewati Hutan Cemara)

 (Jalur Melewati Bunga-Bunga Indah)

(Kawasan Hutan Begitu Indah)

Dari pertigaan jalur pendakian ini, perjalanan dilanjutkan memasuki jalur mendatar yang panjang dengan kondisi jalur tertutup semak belukar, kemudian memasuki jalur setapak diantara pepohonan basah yang mengingatkan saya pada jalur pendakian Gunung Wilis via Candi Penampihan, Tulungagung. Kita harus melewati beberapa pohon tumbang yang cukup besar atau harus berjalan menunduk melewati rerimbunan semak agar tas carrier kami tidak tersangkut semak pepohonan. Menjelang sore hari kami terus melanjutkan perjalanan, cuaca semakin berkabut dan rintik hujan mulai turun keitka kami sampai pada alas kobong (hutan bekas kebakaran beberapa bulan yang lalu). Pohon-pohon cemara yag terbakar mulai tumbuh dan disini kita menemukan banyak sekali tumbuhan bayam yang segar dan beberapa jenis tumbuhan lainya. Susana sejuk sangat terasa melewati wilayah ini dan perjalanan terus kami lanjutkan sampai bertemu pada jalan menanjak lagi. Kami beristirahat di sebuah tempat yang datar sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

 (Sabana Butak)

 (Cipux di Sabana)

(Indahya Sabana Pagi Hari)

Hari semakin sore dan hujan sudah reda, perjalanan terus kami lanjutkan dengan jalan yang menanjak bervariasi dengan jalan datar yang cukup panjang sehingga sampai pada sebuah wilayah yang sangat indah karena disepanjang jalur kita dapat melihat tumbuhan berbunga warna kuning. Begitu indah dipandang sehingga membuat energi yang terkuras selama pendakian terbayar lunas. Semakin tinggi jalur pendakian semakin tipis udara dan kabut sesekali menyapa kami dengan kesejukannya. Meskipun demikian masih ada tantangan lagi yaitu melewati jalan setapak menanjak yang disebelah kiri adalah jurang. Diperlukan kehati-hatian dalam melangkah dan perjalanan terus memasuki kawasan hutan dan jalur setapak mulai mendatar dan disini kita banyak menemukan pohon edelweiss yang biasanya baru berbunga di bulan agustus nanti. Alhamdulillah, perjalanan kami sejak pukul 9 pagi sampai menjelang petang telah sampai di sabana luas tempat camp kami sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. Sampai sabana kami mencari tempat untuk mendirikan tenda dan cukup bayak pendaki yang mendirikan tenda disini, di sabana terdapat beberapa sumber mata air jernih yang dapat kita konsumsi.

 (Hijaunya Sabana Butak)

 (Cipux di Puncak Butak)

(View Gunung Kelud-Gunung Wilis-Gunung Lawu)

(Gunung Semeru Dibalik Awan)

Malam hari cuaca di sabana begitu terang, cahaya bintang terlihat indah dan langit begitu cerah. Suhu udara berkisar 8-10 derajat celcius sehingga jaket tebal dan sleeping bag merupakan peralatan wajib yang harus dibawa untuk menghangatkan badan. Setelah makan malam dan menikmati kopi hangat kami beristirahat lebih awal untuk persiapan pendakian ke puncak esok hari. Pagi hari pukul setengah 6 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan dengan trek yang menanjak dan menguras energi. Sesampai di puncak pemandangan sangat indah berada di ketinggian 2868 mdpl udara sangat sejuk. Kita dapat melihat sabana dan tenda kami dari kejauhan, sementara di sisi lain Gunung Panderman terlihat sangat kecil puncaknya, Gunung Arjuna-Welirang terlihat gagah dengan sesekali mengeluarkan asap belerangya, dari kejauhan tampak Gunung Semeru juga terlihat sangat mempesona dengan gugusan Pegunungan Tenggernya. Sementara itu tak kalah eksotis terlihat Gunung Kelud dengan puncak kerucutnya yang mudah dikenali, Gunung Wilis dengan beberapa puncaknya, dan dari kejauhan Gunung Lawu tampak terlihat dengan puncaknya yang menawan.

 (View Menuju Puncak)

 (View Sabana-Gunung Panderman-Gunung Arjuna-Welirang)

 (Puncak 2868 Mdpl)

(Puncak Gunung Butak)

Dalam pendakian kami ke Gunung Butak kali ini total perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam pendakian tergantung ketahanan fisik dan mental masing-masing para pendaki dengan jalur yang menguras tenaga sedangkan untuk perjalanan turun kami membutuhkan waktu kurang lebih 4,5 jam perjalanan. Meskipun demikian dibalik ekstrem dan terjalnya jalur pendakian, Gunung Butak menyimpan kekayaan alam dan pemandangan alam yang sangat indah. Hangat kebersamaan bersama kawan-kawan diantara alam di tengah-tengah kesibukan kami masing-masing akan menjadi aroma terapi untuk kembali lagi pada kesempatan yang akan datang. Salam damai salam persaudaraan.
(Pasukan Langit, 16 Mei 2016) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar